Kiat Sembuh Wabah Covid-19, Mulai dari Menggunakan Minyak Eucalyptus Hingga Percaya Mitos Leluhur

Foto
Oleh: Amiruddin Kuba

Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendis Kemenag RI/ Mantan Pasien Covid-19 Wisma Atlet Jakarta

Menyandang status sebagai pasien “positif” Covid-19 tidaklah mudah bagi sebagian orang. Bukan tanpa alasan. Sebagian orang memandang bahwa dengan status sebagai pasien positif dapat berpengaruh pada pola pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari ketakutan akan dikucilkan hingga takut dijauhi orang dan oleh tetangga sekalipun. Untuk menghindari hal demikian, selain melakukan isolasi mandiri di rumah, sebagian pasien Covid-19 lebih memilih untuk isolasi di Rumah Sakit atau fasilitas serupa yang telah disiapkan oleh pemerintah atau lembaga tertentu.

Berbagai macam cara yang ditempuh oleh seorang pasien Covid-19 dalam proses penyembuhan. Mulai dari minum obat sesuai anjuran dan resep dokter, belajar dari pengalaman pasien yang telah sembuh hingga mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta. Dari berbagai cara yang ditempuh pasien Covid-19, tujuannya hanya satu yaitu “sembuh”. Selaku salah satu mantan pasien positif Covid-19, saya pun melakukan hal yang sama dengan pasien pada umumnya.

Kronologis Vonis Positif Covid-19

Pada tanggal 25 Agustus 2020, melalui DM whatsapp, saya mendapat kiriman undangan dari untuk mengikuti pembahasan RPMA tentang Penilaian Angka Kredit Jabfung Dosen PTKI yang akan berlangsung pada hari Rabu-Kamis, 27-28 Agustus 2020 di Hotel Aviary Bintaro Tangerang Selatan Banten. Jumlah peserta yang diundang dalam daftar undangan sebanyak 50 orang. Nah, beberapa hari setelah acara usai, yaitu Jumat, 4 September 2020, saya tiba-tiba mendapat pemberitahuan melalui Direct Message (DM) whatsapp bahwa salah satu peserta luar daerah yang ikut dalam pertemuan tersebut dinyatakan positif Covid-19. Oleh karena itu, saya dan peserta lain diminta untuk melakukan tes PCR Swab di Lab FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai bagian dari SOP dan kehati-hatian dalam memutus mata rantai Covid-19. Meskipun demikian, sebagian sahabat tidak merespon dan merasa berat untuk mengikuti permintaan tes Swab karena harus membayar 1,5 juta per orang apalagi di masa pandemi. Keesokan harinya, 5 September 2020, saya mendapat lagi DM yang menyatakan bahwa tes Swab akan ditanggung oleh kantor dan diminta untuk bersiap-siap tes Swab Senin, 7 September 2020 jam 08.00 WIB. Atas informasi ini, kemudian sahabat-sahabat antuasias dan bersedia untuk mengikuti tes Swab meskipun tidak semuanya. Pada pukul 04.00 sore, kebetulan saya mengikuti undangan di Hotel Santika Bintaro, saya mendapat telepon dari sahabat yang juga ikut tes Swab, menyatakan bahwa hasil tes Swab saya dan beberapa sahabat lain terkonfirmasi “positif”. Pada saat itu, saya disarankan untuk pulang ke rumah menjalani isolasi mandiri sesuai arahan dokter.

Isolasi Mandiri di Rumah

Hampir semua pasien Covid-19 yang berstatus orang tanpa gejala atau lebih dikenal dengan istilah OTG disarankan untuk isolasi mandiri di rumah. Meskipun demikian, kadangkala ada pasien Covid-19 memilih isolasi di rumah sakit atau tempat penanganan pasien yang tersedia. Setelah dinyatakan “positif” berdasarkan hasil tes PCR Swab di Lab Fakultas Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dokter menyarankan saya isolasi mandiri di rumah. Salah satu alasannya karena saya termasuk pasien OTG. Pertanyaan kemudian adalah apa yang saya lakukan selama menjalani isolasi mandiri di rumah? Pertama, saya membeli sejumlah obat dan vitamin. Kebetulan ada adik saya dokter, tim satgas Covid-19 dan juga salah satu Direktur Rumah Sakit di Makassar kemudian memberikan resep obat seperti Simlev, Becomzet, dan Maxprinol, Insprinol Methisoprinol, Levocin dan vitamin Enervon-C, NatraHealth, dan Zinc. Selain itu, saya juga mengikuti saran dari sahabat yang sudah sembuh dengan meminum ramuan tradisional seperti jus jahe putih ditambah madu dengan air hangat, dan jeruk dicampur madu, Kefir Kolostrum hasil penelitian Lab Terpadu UIN Sunan Gunung Jati Bandung, menghirup air garam melaui hidung dan berkumur-kumur melalui mulut dan menghirup minyak kayu putih. Kedua, saya menjaga pola makan, dan pola tidur serta melakukan olahraga ringan setiap pagi. Ketiga, saya menjaga kontak fisik dengan keluarga. Salah satu caranya adalah dengan beraktifitas dan tidur di tempat yang berdeda. Semua ini saya lakukan kurang lebih 5 hari selama isolasi mandiri di rumah. Keempat, dan ini yang paling penting adalah berpikir positif. Hal ini bisa dilakukan dengan menghadirkan pikiran positif pada diri kita setiap saat. Dengan berpikir positif diharapkan dapat menjaga imunitas diri kita.

Isolasi di RSDC Wisma Atlet Jakarta

Setelah menjalani isolasi mandiri di rumah selama 5 hari, saya memutuskan untuk isolasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Pertanyaan kemudian adalah mengapa saya ke RSDC Wisma Atlet? Mengapa tidak melanjutkan saja isolasi mandiri di rumah toh sudah menjalani hampir separuh waktu dari 14 hari yang disarankan? Apa yang dilakukan selama isolasi di RSDC Wisma Atlet? Pertama, alasan utama saya memutuskan untuk isolasi ke Wisma Atlet antara karena saya ingin memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ternyata, meskipun kita sudah berusaha untuk tidak beriteraksi atau kontak fisik dengan keluarga tetap saja sengaja atau tidak sengaja kita melakukannya. Ini kemudian menjadi sangat rawan. Kedua, saya berkesimpulan bahwa kalau isolasi di Wisma Atlet atau di RS lain, pasien akan lebih terjaga dan terkontrol karena telah disiapkan tim khusus untuk menangani pasien Covid-19 dengan SOP pelayanan yang jelas dan ketat. Kalau isolasi di rumah kadang-kadang kita uncontrol. Dua alasan utama inilah yang menguatkan saya untuk memilih melanjutkan isolasi di Wisma Atlet pada hari Sabtu malam, 12 September 2020 dan 10 hari kemudian. Sebenarnya, pada tanggal tes Swab tanggal 20 September 2020, namun karena menunggu hasil tes selama 2 hari, maka baru bisa keluar pada pada tanggal 22 September 2020. Selama di Wisma Atlet, karena sudah ada SOP penanganan pasien Covid-19 yang jelas, maka saya tinggal menjalani. Mulai dari pola makan, pola istrirahat, pola minum obat dan vitamin hingga pola olahraga yang teratur. Beberapa obat dan suplemen yang diberikan kepada saya yaitu Antasida Doen, Oseltamivir, Levofloxacin Hemhydrate, Chloroquine Phosphate, Azithromycin, Hydroxychloroquine Sulfate, Vipro – G, dan Gluconate. Saya juga mengikuti pemeriksaan untuk mengontrol kesehatan hampir setiap hari.

Selama isolasi di Wisma Atlet, saya juga memanfaatkan waktu seperti membuat video, serta menulis berbagai macam tema khususnya terkait dengan isu Covid-19. Saya juga tetap bekerja seperti biasa (WFH), mengikuti berbagai aktifitas melalui daring seperti webinar, baik sebagai peserta maupun narasumber.

Memakai Minyak Eucalyptus

Selain beberapa obat dan vitamin di atas, ada satu minyak yang saya gunakan dan ini belum diketahui secara meluas selama saya di RSDC Wisma Atlet yaitu minyak Eucalyptus. Suatu hari, ketika saya sudah menjalani isolasi Covid-19 selama 2 hari di RSDC Wisma Atlet, tiba-tiba saya mendapat DM melalui whatsapp dari seorang sahabat yang sedang menempuh program doktor di Australia. Dia menanyakan kebenaran saya positif Covid-19 atau tidak. Sahabat ini mendapat informasi di media sosial bahwa saya positif Covid-19. Setelah mendengar langsung jawaban saya terkait kebenaran informasi yang didapat di medsos itu, maka tanpa bertanya lebih jauh, sahabat ini langsung menginformasikan bahwa ada sebuah minyak yang menurutnya telah terbukti mampu menangkal Covid-19 sebagaimana testimoni beberapa pasien yang berhasil sembuh. Mendengar informasi ini, tanpa berpikir panjang saya langsung menanyakan dimana minyak itu bisa didapatkan atau dijual. Singkatnya, saya diberikan nomor HP orang yang menjual minyak itu dan kebetulan penjualnya ada di daerah Jakarta. Minyak itu adalah minyak eucalyptus.

Beberapa cara menggunakan minyak eucalyptus ini antara lain: pertama, saya mengambil tissu secukupnya (kira-kira 5cm x 5cm), lalu melipat/menggulungnya seperti melinting rokok. Setelah itu, saya kemudian meneteskan minyak eucalyptus itu secukupnya di kedua ujung linting tissu tadi. Setelah dipastikan kedua ujung sudah basah oleh tetesan minyak eucalyptus, maka linting tissu tersebut dilengkungkan seperti letter “U”, lalu kedua ujungnya dimasukkan ke dalam kedua lubang hidung hingga menyentuh ujung hidung bagian dalam. Berikutnya, tissu yang sudah diteteskan minyak eucalyptus tersebut dihirup hingga uap minyaknya terasa hingga ke dalam perut. Cara menghirupnya dengan menutup salah satu lubang hidung dengan jari telunjuk atau jari lainnya. Jika lubang hidung kanan yang menghirup maka lubang hidung kiri ditutup, sebaliknya demikian. Sebagai tanda bahwa uap minyak ini bereaksi, maka kita akan sedikit batuk-batuk. Ini pertanda minyaknya sudah bekerja (ya mirip-mirip dengan cara kerja minyak kayu putih). Biasanya, saya lakukan ini ketika saya mau istirahat dan berbaring. Kira-kira 10-15 menit di hidung, lalu kemudian saya lepas.

Cara lain yang saya lakukan adalah dengan meneteskan minyak eucalyptus di ujung jari, lalu saya tempelkan di lidah bagian dalam dan mengunyah tetesan minyak tersebut dalam keadaan mulut tertutup. Bisa juga kalau mau langsung teteskan minyak ke dalam lidah tanpa perantara jari tangan tapi ini harus hati-hati karena akan sangat terasa uapnya. Selanjunya, saya meneteskan minyak eucalyptus dan mengusap-usap ke bagian leher, perut dan punggung. Cara-cara ini rutin saya lakukan hingga 3-5 kali setiap hari selama saya isolasi di Wisma Atlet. Alhamdulillah, setelah kurang lebih 5 hari saya menggunakan minyak eucalyptus, saya kemudian tes Swab dan hasilnya “negatif”. Minyak ini juga saya jadikan referensi kepada salah satu pimpinan di institusi di tempat saya bekerja, dan menurut informasi setelah 3 atau 4 hari beliau menggunakannya, beliau juga dinyatakan sembuh sesuai hasil swab yang menunjukkan negatif.

Saya tidak ingin sepenuhnya mengatakan bahwa minyak ini memiliki andil besar dalam proses kesembuhan saya maupun yang lain dari Covid-19, tetapi faktanya, beberapa testimoni pasien yang menggunakan minyak ini termasuk saya sendiri berhasil sembuh. Tentu, saya tidak menafikan faktor-faktor lain seperti minum obat resep dokter, minum vitamin, minuman ramuan tradisional, makan makanan bergizi, olahraga dan tentu ikhtiar serta doa kepada Tuhan.

Dalam sejumlah sumber, minyak eucalyptus diyakini mempunyai sejumlah khasiat obat, meskipun tidak semuanya dikonfirmasi oleh penelitian seperti Sifat antimikroba, meredahkan batuk, pilek, masalah pernapasan dan bronchitis, merangsang sistem kekebalan tubuh, tindakan pencegahan dan efek samping, membantu mengatasi gejala yang dialami, meringankan asma dan sinusitis, mengurangi nyeri sendi, mengatasi bau mulut dan mengurangi plak gigi, serta dapat membantu menenangkan sehingga penderita dapat berpikir lebih baik.

Percaya Kekuatan Mitos Leluhur

Untuk yang terakhir ini, boleh percaya boleh tidak karena ini hanya sebuah mitos turun temurun dari kakek buyut keluarga saya. Masing-masing orang pasti punya padangan sendiri terkait mitos. Setiap daerah atau keluarga tentu memiliki kepercayaan tersendiri dalam menjalani kehidupan termasuk percaya mitos. Di daerah saya, bugis, ada statemen atau quot bijak dalam Bahasa Indonesia kira-kira mengakatan begini. “jika kamu mau pergi ke suatu tempat, maka sampailah di tempat tersebut sebelum kamu tiba”. Maksudnya, yakinkan dalam diri kamu dengan cara membayangkan bahwa kamu sudah ada ditempat tujuan sebelum kamu benar-benar ada di tempat itu. Selain itu, ada juga kepercayaan mitos kelurga leluhur dan saya mempercayainya, bahwa jika untuk memprediksi bahwa kita masih akan hidup (belum meninggal) selama 40 hari ke depan, maka perlu memerikasa dan memastikan 4 hal dalam diri/tubuh kita, apa masih normal atau tidak. Jika masih normal, itu pertanda setidaknya 40 hari ke depan kita masih aman (masih hidup insya Allah). Nah, dalam kontek Wabah Covid-19 ini, sejak saya mengetahui dan divonis bahwa saya positif Covid-19, saya mempraktekkan kepercayaan leluhur tersebut di atas. Saya memeriksa 4 hal pada diri saya, dan hasilnya, saya berkesimpulan bahwa diri dan tubuh saya masih normal. Kepercayaan saya ini kemudian sebagai bagian dari cara menambah imun dan pikiran positif saya bahwa insya Allah saya akan sembuh dan bisa melewati masa isolasi dengan baik. Buktinya, alhamdulillah, perkiraan saya tidak meleset. Inilah kemudian salah satu hal yang menguatkan saya untuk terus optimis sembuh dari Covid-19. Terlepas dari itu semua, tentu kita tidak boleh musyrik dan tetap percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah atas ijin Allah SWT., Wallahu A’lam.

Salam sehat !


Tanggal: 16/10/2020 Jam: 10:40:28 | dilihat: 1920 kali