UNIVERSITY MISSION AGENDA TO CANADA

Foto
(Montreal-Canada, Oktober 2014)

Salah satu upaya untuk mempercepat International outlook Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), berbagai upaya inisiasi kerjasama luar negeri telah banyak dilakukan dengan melakukan berbagai MoU di universitas luar negeri. Bahkan, untuk mengakselerasi upaya yang dimaksudkan, Kemenag melalui Dirjen Pendis semakin progresif dan proaktif mendatangi langsung perguruan tinggi terbaik dunia, antara lain di wilayah Kanada. University Mission Agenda to Canada ini dilakukan dengan melakukan berbagai pertemuan, diskusi ke enam universitas terbaik dan terpilih di Kanada, yakni Mc Gill University, Concordia University, University of Ottawa, University of Toronto, Simon Fraser University (SFU) dan University of British Columbia (UBC). Tidak hanya itu, dalam pertemuan ini juga dilakukan kunjungan penting lainya ke DFATD, bersilaturahmi ke Indonesian Embassy, WUSC, serta Cowater International Inc, salah satu perusahaan konsultan swasta Kanada berdiri sejak tahun 1985 yang mengundang delegasi dan misi pertemuan universitas ini.

Melalui salah satu project Cowater yang dikenal dengan SILE (Supporting Islamic Leadership in Indonesia) mereka mengundang delegasi dari Kementerian Agama, yakni Prof. Dede Rosyada, M.A (Direktur Pendidikan Tinggi Islam), Prof. Dr. Phil. Kamaruddin (Diruktur Jenderal Pendidikan Islam), dan H.M. Adib Abdushomad, Ph.D (Diktis) untuk melakukan penjajakan kerjasama pendidikan, baik dalam bidang pemberian beasiswa, riset, tukar menukar tenaga pengajar, penyediaan Adjunct Professor dalam bidang ilmu-ilmu tertentu. Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, karena pada saat menjelang berangkat ke Kanada dilantik menjadi Dirjen Pendis oleh Bapak Menteri Agama (17 Oktober 2014), beliau akhirnya tidak dapat mengikuti university mission agenda ini. Namun beliau, menitipkan catatan penting agar ada hasil maksimal sehingga tahun 2015 dapat dieksekusi dan dilakukan penandatangan MoU dengan universitas yang telah ditentukan.

Melalui serangkaian pertemuan yang telah dilakukan, dapatlah dipetakan bahwa masing-masing universitas di Kanada memiliki kekuatan yang unik, distinctive serta umumnya berciri khas working across boundaries of knowledges. Mc Gill University misalnya telah lama dikenal sebagai gudangnya alumni Islamic studies saat CIDA Project, kini memiliki jargon Sustainability Strategy yang berupaya menempatkan Research, education, connectivity, operation, Government dan Administration secara terintegrasi. Dengan demikian, Mc Gill tidak saja identik dengan kekuatan Islamic Studies-nya namun lintas disiplin sesuai dengan karakter Perguruan Tinggi Islam yang kini telah mengalami transformasi secara besar-besaran ke Universitas (UIN) dimana sciences menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam visi dan misi institusi UIN. Disinilah pertemuan di extended ke wilayah-wilayah ilmu-ilmu non-Islamic studies, seperti pertemuan dengan dengan Departement of Mining and Material Engineering dengan Prof. Agus Sasmito, akademisi Indonesia yang sedang berkarir di Mc Gill University. Tentu saja pertemuan dengan pakar bidang ilmu yang juga dilakukan antara lain dengan Prof. Manfredi (Dean faculty of Arts), Prof. Abi Saad (acting as Director of the Institute of Islamic Studies), dan Prof. Philip Buckley (Chair, Department of East Asian Studies).

Prof. Philip Buckley dan Prof. Saad, bahkan sudah berjanji siap akan membantu rencana dan design pengiriman mahasiswa Ph.D dari Kementerian Agama, serta membangun kembali hubungan yang erat Kementerian Agama yang pernah dijalin.

Beberapa universitas lain juga tidak kalah pentingnya untuk digali potensi untuk dilakukan kerjasama, antara lain Concordia University yang dapat penghargaan sebagai universitas top nomer 4 di Kanada yang umurnya dibawah 50 tahunan. Universitas Concordia ini terkenal dengan ambisinya sebagai Comprehensive University. Dari Montreal, dilanjutkan perjalanan ke Ottawa, dari Ottawa University, dapat digali kerjasama untuk pengiriman untuk training serta up-grade knowledge para pemimpin PTAI karena universitas Ottawa ini mempunyai kekuatan dengan Centre Executive leadership-nya, Di Ottawa University, Engineering dan Science juga memiliki reputasi yang sangat bagus dimana masing-masing Vice Dean hadir langsung dalam pertemuan ini, yakni Richard Blute dan Michel Labrosse, dsb.

Sedangkan untuk University of Toronto dan University of British Columbia sangat potensial dan siap untuk dilakukan kerjasama dalam skema kolaboratif research untuk para dosen serta visiting professor. Saat di Toronto University kita berjumpa Prof. Joshua yang telah tiga tahun mengajar di Indonesia (tepatnya di ITB) dan siap untuk membantu jika ada kolaboratif research dari dosen-dosen Pendidikan Tinggi Islam. Di Simon Frasher University merupakan university yang menempatkan university engagement sebagai kekuatannya, oleh sebab itu program community out-reach kemungkinan akan sangat potensial jika bekerjasama dengan univeristas ini.

Melalui university mission agenda ini terlihat bahwa Perguruan Tinggi Islam memang harus lari kencang, atau istilah Presiden Jokowi yang menyebut dalam pidatonya harus bekerja keras untuk berkontribusi dalam peradaban dunia, atau dalam konteks dunia akademik disebut to create environment that encourages a global perspective across all endeavor. Dalam konteks inilah Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus mampu mengikis, bahkan menghilangkan segregasi kelompok pasca pemilihan pimpinan Perguruan Tinggi serta memiliki determinasi kuat secara bersama-sama mengembalikan kampus sebagai dunia akademik yang murni, dimana publikasi karya ilmiah, inovasi serta temuan-temuan teknologi terbaru menjadi ukuran dan ajang berkompetisi. (Adib, Gja, Canada)


Tanggal: 24/10/2014 Jam: 12:34:51 | dilihat: 2261 kali