Antara World Class University dengan Research University

Anis Masykhur*)

Dalam rangka mempercepat perwujudan World Class University, Presiden RI Joko Widodo telah me-launching program 5000 Doktor di Istana Negara. Presiden berharap bahwa program ini bisa menjadi jembatan promosi Islam Nusantara ke dunia. Program 5000 Doktor di bawah visi Towards World Class University adalah terobosan program yang cerdas dan inovatif. Dengan program tersebut, Indonesia akan mampu menjadi pusat peradaban Islam dunia.

Sejak lama Kementerian Agama telah merumuskan langkah-langkah internasionalisasi perguruan tinggi Islam. Kemitraan dengan Pemerintah Kanada adalah salah satu contohnya. Pengiriman besar-besaran intelektual muslim Indonesia untuk menempuh pendidikan program pascasarjana adalah salah satu langkah yang telah dirintis sejak era 90-an. Program ini juga disupport secara berkesinambungan dengan berbagai bentuknya. Maka pada periode millennium kedua, muncullah beberapa anak muda yang meng-orbit dengan pemikiran-pemikiran keislaman khas Indonesia.

Program 5000 Doktor mendapatkan apresiasi masyarakat cukup luas. Para insan di perguruan tinggi berduyun-duyun mendaftarkan diri pada program tersebut. Tercatat hingga akhir bulan Mei 2015, aplikasi program 500 Doktor mencapai angkat di atas 500 applicant. Angka yang cukup spektakuler. Ini menunjukkan bahwa program ini gayung bersambut dengan impian mereka.

Dengan beberapa program “cerdas” tersebut, optimism menjadikan PTKI Indonesia menjadi world class university akan makin kokoh.

Salah Kaprah Memahami WCU

Di masa-masa sebelumnya, terobosan untuk mewujudkan langkah internasionalisasi kelembagaan PTKI dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, membuka program international dengan proses pembelajaran yang bi lingual, yakni dengan bahasa Inggris dan Arab. Semangat PTKI yang berbondong-bondong membuka kelas international tersebut tercermin pula dalam draft Statuta yang diajukan ke Kementerian yang selalu mencantumkan program kelas international. Meski demikian, pencantuman kelas international ini tak lepas dari kritik. Salah satu kritik pernah dilontarkan Prof. Dr. Achmad Gunaryo, Kepala Biro Hukum dan Ortala Kemenag. Menurutnya yang juga dosen UIN Walisongo ini, bahwa kelas international yang sering dipahami dengan penyelenggaraan proses pendidikan dengan dua bahasa adalah pemahaman yang tidak benar. Menurutnya, ini adalah persrepsi yang perlu diluruskan. Karena kelas international tidaklah cukup hanya mengandalkan bahasa saja. Tapi ia adalah bagian terkecil dari pemenuhan langkah tersebut. Kedua, program benchmarking ke PT di Luar Negeri. Benchmarking menjadi trend selama 5 (lima) tahun terakhir. Hal terlihat dari pencantuman anggaran hampir di sebagian besar perguruan tinggi yang mencantumkan anggaran perjalanan luar negeri. Hal yang sama, pengajuan izin kunjungan luar negeri banyak berdatangan di meja Direktur Diktis.

Jika perguruan tinggi hanya berhenti pada dua langkah di atas, maka sama saja mereka salah memahami terminologi world class university. Dua hal yang telah dilakukan selama ini perlu diperkuat dan ditambah langkah-langkah strategis lainnya.

Riset Sebagai Pintu Gerbang WCU

Memperkenalkan perguruan tinggi yang paling efektif adalah melalui instrument riset. Riset harus dilakukan dengan kualitas yang memenuhi standar international dan menggunakan referensi atau teori-teori yang mampu menyambungkan informasi (tawasul ilmiah) Indonesia dalam kancah international. Dengan demikian, riset tentang Indonesia dan Islam akan bisa dibaca oleh akademisi dunia.

Kesalahan umum dalam pelaksanaan penelitian di lingkungan perguruan tinggi adalah bahwa para akademisi belum secara optimal menggunakan alat analisis dan teori yang mampu menghubungkannya dengan masyarakat dunia. Pentingnya teori adalah bahwa fakta di Indonesia mempunyai kemiripan dengan masyarakat dunia. Namun, ketidakmampuannya tersebut sering “dibela” (apologized) dengan statemen bahwa apa yang menjadi teori ilmuan Barat tidak selalu cocok dengan konteks Indonesia. Untuk itu, tidak perlu dipergunakan dalam pertimbangan teori dalam riset Indonesia. Begitulah tanggapan mereka.

Melalui penelitian, dunia akan mengenal lebih dalam tentang Indonesia dan Islam. Selama ini, dunia mengenal Indonesia melalui orang-orang “bukan Indonesia.” Perhatikan saja karya-karya akademik yang jadi rujukan di dunia pendidikan. Mark Woodward adalah salah satu akademisi yang memperkenalkan Islam Jawa ke dunia, Clifford Geeertz adalah akademisi yang memperkenalkan teori trikotomi masyarakat Indonesia melalui risetnya yang kemudian dibukukan dengan judul The Religion of Java, dan sejumlah tokoh lain.

Keberadaan para peneliti tersebut hampir menjadi referensi mutlak para peneliti. Seorang peneliti anthropolog atau sosiolog tentang Jawa terasa belum sah jika tidak merujuk kepada pendapat Geertz. Bahkan hingga saat ini, teori Geertz belum bisa “diruntuhkan” meski sudah banyak pengkritiknya.

Nah, kualitas penelitian seperti Geertz inilah yang diharapkan akan bermunculan dari PTKI.

Perkembangan Riset dan Pengabdian berbasis Riset

Masyarakat pendidikan tinggi mengapresiasi positif penelitian, pengabdian dan publikasi ilmiah yang dimediasi oleh Kementerian Agama. Perhatikan kenaikan grafik pengaju proposal dari tahun ke tahun. Pendaftar pada tahun 2013 mencapai 1473. Tahun 2014 berjumlah 1642 dan pada Tahun 2015 mencapai 2047. Meski, anggaran yang disediakan Negara baru mampu membiayai 25%-nya.

Di sektor anggaran, pemerintah juga mengalokasikan anggaran khusus dengan menetapkan kewajiban setiap perguruan tinggi penerima dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri—disingkat BOPTN—agar mengalokasikan sekurang-kurangnya 30%. Perkembangan ini tentu menggembirakan untuk pertumbuhan ilmu ke depan. Bisa diprediksikan, dalam 5 sampai 10 tahun ke depan akan terjadi perubahan signifikan tentang citra Islam Indonesia di hadapan dunia.

Dari Riset ke Publikasi; Promosikan Islam

Membangun visi dan misi riset untuk mempromosikan Islam yang rahmatan lil alamin perlu diperkuat oleh seluruh elemen penyelenggara penelitian keagamaan. Sehingga pelaksanaan riset terasa menjadi lebih “bernyawa”. Jikalau aktivitas riset hanya untuk keperluan pemenuhan kewajiban dasar akademisi (sepreti pemenuhan Beban Kerja Dosen/BKN) adalah aktivitas yang hanya mengikuti “takdir” akademik. Nah, motivasi meneliti harus diberi makna yang kuat agar nilai-nilai Islam terdiseminasikan secara proporsional. Di sisi lain, mendiseminasikan hasil penelitian adalah salah satu bentuk “amal jariah” keilmuan peneliti.

Motivasi untuk mempublikasikan hasil penelitian akan mendorong para akademisi lebih kreatif dalam menemukan permasalahan penelitian yang mempunyai daya tarik. Publikasi ini sekaligus mempromosikan Islam ke dunia luar. Maka dari itu, jika banyak penelitian yang menginformasikan Islam ke dunia, maka Islam Indonesia akan menjadi rujukan, bahkan kiblat dunia. Ingat! Banyak yang berminat mengkaji Islam, namun jika Islam yang dikenal adalah Islam yang selalu menjadi pemicu aksi kekerasan, maka minat masyarakat dunia akan luntur. Nah, PTKI bisa mengambil peran ini.

Sudah barang tentu, publikasi yang “dibaca” di tingkat international adalah jika artikel dimuat dalam jurnal yang terakreditasi international. Sebab, sebuah tulisan yang memenuhi syarat pada jurnal international cukup ketat dan memenuhi standar international. Inilah “jihad akbar” para akademisi PTKI yang harus diupayakan dan didukung semua unsur.

*) Penulis adalah Kepala Seksi Penelitian Subdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Tulisan ini adalah hasil refleksi pribadi atas perkembangan fenomena penelitian di lingkungan PT Keagamaan Islam.


Tanggal: 11/08/2015 Jam: 09:25:28 | dilihat: 2663 kali