JAKARTA JADI ZONA TERAKHIR SELEKSI BEASISWA PROGRAM 5000 DOKTOR LUAR NEGERI 2019

Pendis (Jakarta) – Kementerian Agama RI melalui PMU Program 5000 Doktor Luar Negeri, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam kembali melaksanakan seleksi Calon Penerima Beasiswa Program 5000 Doktor Luar Negeri di zona 4 Jakarta. Seleksi sebelumnya dilaksanakan di tiga zona yaitu Batam, Surabaya, dan Makassar. Seleksi yang akan berlangsung selama tiga hari (Kamis-Sabtu, 25-27 April 2019) di Hotel Harris Vertu Harmoni Jakarta Pusat dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr (Phil) Kamaruddin Amin, MA, didampingi Manajer PMU Program 5000 Doktor Luar Negeri, Yeni Ratna Yuningsi, PhD., Kamis (25/4/2019).

Saya mengucapkan selamat datang para calon penerima beasiswa program 5000 doktor luar negeri di zona 4 Jakarta, ucap Kamaruddin Amin mengawali arahannya. Kamaruddin menyampaikan bahwa Program 5000 doktor luar negeri ini sengaja di-design agar SDM tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di PTKI kualitasnya semakin meningkat. Oleh karenanya, pembenahan SDM di PTKI mutlak diperlukan. Kita tahu jumlah dosen di PTKI kurang lebih 35.000 orang tapi yang bergelar doktor belum tembus 20%. Belum lagi jika berbicara soal jumlah dosen yang bergelar professor yang baru mencapai kurang lebih 500 orang. Padahal salah satu ukuran PTKI berkualitas jika memiliki tenaga SDM dosen yang berkualitas pula. Sebagai contoh di PT luar negeri, setiap prodi dibimbing oleh seorang profesor. Mestinya prodi-prodi PTKI kita juga demikian. Ironisnya, prodi-prodi di PTKI kita masih sedikit yang memiliki dosen bergelar doktor apalagi profesor. Melihat kenyataan ini, saya berharap bapak-ibu yang mengikuti seleksi beasiswa program 5000 doktor luar negeri di Jakarta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik agar bisa sukses dan lulus, tegas Kamaruddin. Lebih lanjut, Kamaruddin yang juga pernah menikmati kuliah gratis S2 dan S3 di luar negeri menitipkan pesan kepada para peserta agar memanfaatkan seleksi ini dengan baik. Dalam pengertian bahwa peserta harus berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan diri mengahadapi tes seleksi. Apalagi pada tes kali ini, akan diinterview langsung oleh profesor perwakilan perguruan tinggi tujuan di luar negeri. Peserta juga tidak perlu kuatir dengan proses seleksi ini. Kita pastikan proses seleksi tahun ini, makin profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesuksesan tergantung dari kemampuan dan kualitas peserta itu sendiri. Oleh karena itu, selaku dirjen pendidikan Islam, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada tim PMU program 5000 doktor luar negeri yang telah bekerja keras, profesional, tansparan dan memberikan inovasi-inovasi baru untuk pengembangan program 5000 doktor luar negeri ini, ucap Kamaruddin mengakhiri arahannya.

Hal senada disampaikan oleh Yeni Ratna Yuningsih, PhD selaku Manajer PMU program 5000 doktor luar negeri,. Yeni menjelaskan bahwa dari tahun ke tahun kita senantiasa berikhtiar untuk melakukan pembenahan program ini di segala lini baik yang terkait dengan manajemen, inovasi program maupun pelayanan. Dari sisi manajemen, mulai tahun 2018, struktur PMU 5000 doktor mulai agak ramping jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun perlu dicatat bahwa dengan adanya perampingan ini, justeru mobilitas dan kekompakan tim sangat efektif. Sisi inovasi program, PMU 5000 doktor luar negeri telah mempersiapkan sejumlah program. Salah satunya adalah menjalin progam kerjasama (customized) dengan pihak universitas luar negeri dalam berbagai bidang disiplin ilmu. Kita juga membuat beberapa program penunjang (supporting program) antara lain: program persiapan bahasa dan akademik, talent scouting, home incoming alumni conference, pre-departure orientation dan bebepa program lainnya. Adapun, dari sisi pelayanan, PMU 5000 doktor berbenah diri dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah terkait proses pencairan beasiswa dimana pelayanan pencairan saat ini khususnya terkait dengan verifikasi dokumen telah menggunakan sistem online tanpa harus menggunakan hard document sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Ucap Yeni. Alumni McGill University ini juga menjelaskan bahwa seleksi kali ini sedikit berbeda dengan proses seleksi di tiga zona sebelumnya. Peserta yang mengikuti seleksi kali ini merupakan calon penerima beasiswa yang memilih jalur kerjasama (customized program) sementara pada seleksi sebelumnya khusus bagi peserta yang memilih jalur regular (regular program).

Perbedaan dapat dilihat dari sisi proses interviewe dimana pada seleksi jalur customized ini terdapat join interview yang melibatkan interviewer perwakilan kampus Luar Negeri dan didampingi oleh reviewer perwakilan Kementerian Agama RI, Perbedaan lain adalah adanya video call antara peserta dengan international interviewer langsung dari kampus tujuan peserta tes. Hal ini dilakukan karena international interviewer tidak bisa hadir secara langsung dan karenanya video call sebagai solusinya. Pernyataan Yeni di atas, dibenarkan oleh Salamah Agung, PhD., yang mengisi penjelasan teksnis proses seleksi kali ini. Salamah menambahkan bahwa seyogyanya kita ingin mengahadirkan seluruh interviewer dari universitas tujuan di luar negeri, namun karena sesuatu hal, mereka tidak semua bisa hadir untuk melakukan wawancara secara face to face. Oleh karena itu, kita melakukan cara lain dengan menggunakan video call. Lebih lanjut, Salamah menjelaskan bahwa ada 2 universitas yang perwakilannya dapat melakukan interview dengan face to face yaitu Canberra University (CU) dan Coventry University (CU). Sedangkan untuk video call dilakukan bagi peserta yang memilih PT tujuan Western Sydney University (WSU), Leiden University, Central Queensland University (CQU). Sementara khusus McGill dilakukan face to face oleh interviewer perwakilan Kemenag RI. Salamah juga menyampaikan sejumlah tes yang wajib diikuti peserta yaitu tes esai, tes potensi akademik (TPA), psikotes, dan tes wawancara. Khusus untuk tes TPA dan Psikologi, PMU mengahadirkan Tim Pusat Layanan Psikologi (PLP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di ruang terpisah, PMU program 5000 doktor luar negeri juga melakukan rapat reviewer yang dipandu oleh Didin Nuruddin, PhD selaku PIC, Arif Zamhari, PhD dan Yuli Yasin, PhD selaku Koordinator Wilayah I. Sejumlah hal disampaikan pada rapat ini khususnya terkait teknis penilain, pembagian tugas dan hal lain terkait wawancara selama kegiatan berlangsung, kata Amiruddin Kuba, MA yang bertindak selaku moderator. Amir juga menyampaikan bahwa peserta yang hadir pada seleksi zona 4 ini berjumlah 33 orang dari 105 yang lulus tahap pertama. Sebelumnya, peserta yang ikut di zona 1 Batam 30 orang, zona 2 Surabaya 31 orang, dan zona 3 Makassar berjumlah 11 orang.

Seperti biasa, di sela-sela pembahasan teknis seluruh peserta disodorkan lembar surat pernyataan untuk ditandatangani di atas materei. Surat pernyataan ini berisi kesediaan mereka mengikuti program persiapan bahasa dan akademik jika mereka dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa program 5000 doktor luar negeri. Pernyataan kesediaan ini juga menjadi penentu apakah status mereka dapat dilanjutkan atau tidak (gugur) sebagai penerima beasiswa program 5000 doktor luar negeri, ucap Koordinator Persiapan Bahasa dan Akademik ini.

Pada seleksi zona 4 kali ini, seluruh tim PMU 5000 Doktor Luar Negeri lainnya turut hadir yaitu: Abdullah hanif (Koordinator Administrasi dan Keuangan), M. Sahuri, (Bendahara), Efin Faridho, Arini Dina Yushofa, Slamet Siswanto, Abdullah Sarsan, Faizal Ahrul Maulana, Nurul Minchah dan sejumlah undangan dari direktorat lain.

Penulis: (Amiruddin Kuba)


oleh Subdit Kelembagaan & Kerjasama | Edisi Tanggal: 26/04/2019 Jam: 11:39:14 | dilihat: 1363 kali

Berita Terkait