Kasubdit Kelembagaan: “KERJASAMA PERGURUAN TINGGI JANGAN HANYA MENGANDALKAN MoU”

Sejumlah PTAIN akhir-akhir ini gencar mengadakan kunjungan ke berbagai lembaga dan perguruan tinggi di luar negeri untuk merintis dan menjajaki kerjasama antar lembaga. IAIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Walisongo Semarang, dan IAIN Sumatera Utara termasuk yang gencar melebarkan sayap kerjasama ini dengan sejumlah perguruan tinggi di Eropa, Australia, dan Timur Tengah. Sementara UIN telah lama merintis kerjasama ini dan telah menghasilkan ratusan dokumen Memorandum of Understanding (MoU).

Gencarnya PTAI mengadakan kerjasama ini ditanggapi positif oleh Kasubdit Kelembagaan Diktis, Dr. Mastuki HS. Dalam sambutan pembukaan, Kasubdit menyatakan bahwa 53 PTAIN dan lebih dari 100 PTAIS di Indonesia adalah potensi besar yang dapat dimaksimakan untuk kerjasama. Belum lagi varian bidang keilmuan Islam yang menjadi main mandate dan core businesss jika dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar menggalang kerjasama antar perguruan tinggi. Namun, Mastuki buru-buru menambahkan, “Kerjasama jangan hanya diartikan mengumpulkan sebanyak-banyak dokumen MoU. Tidak cukup dengan MoU. Yang penting adalah implementasinya”, katanya yang diamini beberapa narasumber lain.

Dr. Jamhari dari UIN Jakarta yang hadir sebagai narasumber dan Tim Taskforce menceritakan bahwa UIN Jakarta telah lama merintis kerjasama ini dengan berbagai lembaga di luar negeri maupun dalam negeri. “Dokumen MoU di UIN Jakarta sampai saat ini berjumlah ratusan, tetapi yang dapat diimplementasikan hanya beberapa”, kata Jamhari bersemangat. Dalam paparannya, Wakil Rektor bidang Kerjasama ini menekankan perlunya memperluas dan mengembangkan kerjasama dalam negeri yang sesungguhnya sangat besar dan potensial. “Ada tiga elemen penting dalam negeri yang dapat dimaksimalkan dalam kerjasama PTAIN yakni dunia industri, local government atau Pemda, dan PT itu sendiri”, tegas Jamhari.

Isu pentingnya mengusung “Islam Indonesia” (Indonesian Islam) juga sempat mengemuka dan menjadi perbincangan menarik kegiatan Koordinasi Kerjasama dan Orientasi Budaya Bagi Dosen Asing di PTAI yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam pada 17-19 Oktober 2013 di Hotel Bukit Indah Puncak Bogor. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari ini menghadirkan dosen-dosen asing dari Amerika Serikat dan Australia yang mengajar di PTAIN, Wakil Rektor Bidang Kerjasama PTAIN, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Organisasi Kemasyarakatan yang memiliki jaringan kerjasama bagus seperti Wahid Institute, Tim Taskforce Kerjasama, dan pejabat Kementerian Agama RI. Kegiatan ini juga mengundang narasumber dari representasi LSM Internasional yaitu Toyota Foundation, Dr. Budhy Munawar-Rachman, selain ada Dr. Ruhayni Dzuhayatin, Komisioner HAM Organisasi Konferensi Islam (OKI) sekaligus dosen UIN Yogyakarta dan aktivis jender.

“Keunggulan Islam Indonesia dapat diambil secara baik dan dijadikan ajang promosi oleh IAIN, UIN, dan STAIN ke dunia internasional”, kata Budhy Munawar-Rachman. Islam Indonesia yang ditawarkan Budhy adalah Islam yang memiliki ciri-ciri moderat dan khas Indonesia, yang berbeda dengan tampilan Islam di kawasan lain seperti Islam Arab, Islam India, Islam Amerika, atau Islam Afrika dan Islam Eropa. Tawaran Budhy ini gayung bersambut dengan Ruhayni Dzuhayatin yang secara khusus menginginkan agar Islam Indonesia dijadikan ikonik oleh PTAI. “Leading sector ikonik Islam Indonesia ini dapat diperankan oleh Kementerian Agama”, pungkas Komisioner HAM di OKI ini.

Selain diskusi, kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Pendis, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA yang menyampaikan beberapa hal sangat mendasar pengembangan bidang kerjasama PTAI di masa depan. Sesditjen menegaskan bahwa perlu kesadaran kolektif dari semua pihak untuk melakukan program kerjasama. Dan itu hendaknya dimulai dari inisiatif dan proaktif dari pihak perguruan tinggi yang bersangkutan untuk mampu menggalang dana dalam mengembangkan bidang kerjasama di PTAI. “Kendala paling mendasar dalam meningkatkan program kerjasama di PTAI umumnya adalah kendala teknis menyangkut anggaran”, kata Kamarudin, sembari mengharapkan agar PTAI mampu memiliki modal yang kuat untuk meningkatkan kualitas lembaga masing-masing dalam bidang kerjasama baik dengan institusi di dalam negeri dan luar negeri.

Pertemuan ini merekomendasikan Tim Taskforce Kerjasama untuk membuat semacam Pedoman Kerjasama PTAI. Direktorat telah menetapkan 6 orang yang diminta mengawal kerjasama PTAI ini, yakni Dr. Jamhari, Dr. Yeni Ratnaningsih (keduanya dari UIN Jakarta), Dr. Arif Zamhari, Dr. Basri Zain (UIN Malang), Dr. Nasrullah Jazam (STAINU Jakarta), dan Hasbu Marzuki, MA (mantan Kabag Kerjasama di Setjen Kementerian Agama.[Kelembagaan Diktis]


oleh Fauzanah Fauzan El Muhammady | Edisi Tanggal: 25/10/2013 Jam: 07:43:38 | dilihat: 1766 kali

Berita Terkait