Kegiatan Kemahasiswaan , antara Natural dan By Design

Acara Sosialisasi Grand Design Kegiatan Kemahasiswaan yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 16 November 2013 di Hotel Maharani Jakarta menghadirkan beberapa Narasumber yang berasal dari beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam. Sebagai pembicra rujukan dan pembanding, panitia juga mengundang pembicara dari Kementerian Pendidikan Nasional, dalam hal ini pembicara yang hadir adalah Dr. Widyo Winarso, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Pendidikan Tinggi.

Dalam paparannya, beliau memulai dengan menyampaikan aspek secara umum tentang dinamika peluang dan tantangan pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya pendidikan di Indonesia menjadi unik karena berbagai ragam corak yang mempengaruhi, seperti factor geografi dan demografi, selain keragaman social budaya yang sangat kaya di seantero Nusantara. Dalam pandangan Beliau, kemajuan pendidikan Tinggi di Negara lain seperti di tingkat ASEAN tidak selalu bias dianalogikan dengan karakteristik Pendidikan Tinggi di Indonesia, mengingat sangat luas wilayah dan kompleks permasalahan yang harus di design dan ditangani secara baik. Analogi Singapore misalnya, yang seringkali dikatakan memiliki system pendidikan yang baik dibanding Indonesia, kata beliau adalah hal keliru dalam berbagai aspeknya, apalagi jika dikomparasi dengan keragaman dan keluasan wilayah. Beliau menegaskan komparasi hanya bisa dan berbanding sejajar jika memakai standar wilayah tertentu, semisal Jakarta, sekali lagi mengingat struktur masyarakat dan minimalisnya wilayah Singapore disbanding Nusantara.

Menukik ke arah tema kegiatan kemahasiswaan , dalam paparannya konstruksi kegiatan kemahasiswaan hampir selalu identik dengan pengembangan budaya akademik, penalaran dan akhlak mulia, atau dalam bahasa lain pengembangan multi dimensi seperi kecerdasan intelektual, spiritual, emosional dan kinestetik. Secara konseptual beliau menyampaikan bahwa budaya akademik merupakan seluruh sistem nilai, gagasan, norma, tindakan, dan karya yang bersumber dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sesuai dengan asas Pendidikan Tinggi . Hal ini selaras dengan visi dan misi pengembangan kemahasiswaan Kemdiknas yang menyatakan bahwa mahasiswa Indonesia harus cerdas komprehensif dan kompetitif atau dengan istilah lain menjadi insan kamil atau paripurna.

By design konsep ini sebetulnya dimaksudkan untuk meminimalisir kegiatan kegiatan kemahasiswaan yang mengarah pada tindakan ekstrem, anarkis , ideologis dan politik praktis. Intinya menghindari naturalisasi liar dari ekspresi muda yang dikhawatirkan sering salah arah dan kaprah dalam mengejawantahkan aspirasi dan keinginan, sekalipun naturalisasi tidak selalu berkonotasi negative, karena secara independen, nahasiswa mempunyai hak dan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya.

Didampingi oleh moderator , Siti Sakdiyah, M,Pd, selaku Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, menyampaikan apresiasinya dan menyambut positif pemaparan Narasumber dari Kementerian Pendidikan Nasional ini.

Dari Narasumber Perguruan Tinggi Islam dan beberapa tanggapan peserta, berisi nada yang sama, namun kompleksitas pergurun tinggi Islam yang notabene mahasiswanya mayoritas berasal dari basis pendidikan madrasah dan pesantren, maka pola design pun akan semakin kompleks. *Fikri*


oleh Subdit Sarpras & Kemahasiswaan | Edisi Tanggal: 15/11/2013 Jam: 11:22:31 | dilihat: 732 kali

Berita Terkait