Dede Rosyada : PTAI Harus Berbenah Publikasi Karya Ilmiah

”Baru-baru ini ada kasus dosen yang ditolak usulan kepangkatannya sebagai Lektor Kepala karena belum pernah menulis pada jurnal terakreditasi nasional. Ini menunjukkan sangat pentingnya publikasi karya ilmiah. Kualitas seorang Dosen akan diuji melalui karya yang ter-publish dalam Jurnal terakreditasi”.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, dalam kesempatan membuka Temu Konsultasi Pengelola Jurnal Ilmiah PTAI di malang, 14 November 2013. Menurutnya, perlu langkah strategis untuk mendorong jurnal-jurnal yang ada di lingkungan PTAI agar segera terakreditasi. ”Perlu langkah nyata untuk akselerasi akreditasi jurnal di PTAI. Ketermuatan karya ilmiah pada jurnal merupakan salah satu indikator kualitas dosen. Kualitas intelektual itu diuji dari updating keilmuan, updating keilmuan itu dibuktikan dengan tulisan di jurnal.”

Mengacu pada Peraturan MenPAN dan RB No 17 tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, strata Doktor menjadi syarat untuk kenaikan jabatan ke Lektor Kepala dan Guru Besar (Pasal 26 ayat 3). Secara lebih spesifik, kenaikan jabatan ke Lektor Kepala wajib memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal terakreditasi, sedangkan persyaratan ke Guru Besar wajib memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi (pasal 26 ayat 4).

Terkait dengan regulasi tersebut, Dede Rosyada memaparkan beberapa kebijakan streategis yang akan segera dilaksanakan Diktis. Pertama, perlu bimbingan teknis dalam proses akreditasi jurnal nasional. “Harus ada pemetaan jurnal mana saja yang harus didorong akreditasinya, lalu tahun berapa target diakreditasinya. Saat ini ada 22 jurnal PTAI yang sudah terakreditasi, target saya bisa ada lagi 10 jurnal yang terakreditasi pada tahun 2014. Bila perlu bimbingan teknis, silakan datang ke kami, Diktis siap menjadi fasilitatornya”. Ucapnya.

Yang kedua; perlu segera dilakukan pemetaan atau kategorisasi jurnal, masuk dalam bidang ilmu atau dalam cabang ilmu. Saat ini ada 6 bidang ilmu dan ada 32 cabang ilmu yang ada dibawah kewenangan Diktis. Jurnal itu harus spesifik, saat ini jurnal yang ada di PTAI kebanyakan terlalu general, masih dalam kategori rumpun ilmu, masih terlalu luas. Akan lebih baik jika jurnal itu ditulis dalam bidang ilmu atau disiplin ilmu, sehingga jurnal itu lebih spesifik. Bila jurnal masih kurang spesifik maka akan mempengaruhi nilai akreditasinya, bukan karena kualitas tulisan yang kurang baik tapi karena spesifikasi bidang ilmu jurnal yang terlalu general.

Yang ketiga; apakah sudah ada jurnal yang ada di prodi umum di UIN yang mengintegrasikan antara ilmu agama dengan sains? Jurnal ilmiah yang secara spesifik mengintegrasikan sains dan teknologi dengan disiplin ilmu agama sangat urgen untuk diterbitkan. Jurnal ilmiah integrasi keilmuan tersebut dapat mensosialisasikan kepada masyarakat luas, pembeda antara disiplin ilmu umum di PTU dengan disiplin ilmu umum yang ada di UIN. Publikasi ilmiah integrasi ilmu agama dan sains inilah yang harus dikembangkan. Saat ini saya belum melihat ada jurnal yang mengintegrasikan antara agama dan sains”. pungkasnya. (16nu).


oleh Ibnu Anwarudin | Edisi Tanggal: 15/11/2013 Jam: 13:35:39 | dilihat: 1236 kali

Berita Terkait