Peserta AICIS XIII Antusias Mengikuti setiap Sesi

Lombok, NTB, Indonesia—Selasa (19/11). Sejak pukul 08.30 WITA peserta Annual International Conference on Islamic Studies XIII mulai memadati Bima Ballroom (aula utama penyelenggaraan AICIS) di Hotel Santosa, di kawasan jalan raya Senggigi, Lombok. Mereka tidak ingin melewatkan ulasan materi dari pembicara kunci, Prof. Dr. Azyumardi Azra, guru besar UIN Jakarta. Pada forum perdana di AICIS XIII ini Prof. Azra memaparkan makalah berjudul “Kekhasan Paradigm Kajian Keislaman Indonesia” (Distinctive Paradigm of Indonesian Islamic Studies).

Acara dilanjutkan dengan sesi pleno (plenary session)yang menampilkan pembicara Whitney A. Bauman, Ph.D, Prof. Mariam Ait Ahmed, dan Prof. Amin Abdullah. Whitney membicarakan persoalan globalisasi dan agama. Menurut dia, Indonesia adalah kawasan yang tepat untuk mempelajari model kesatuan dunia sains dan agama, abad ini.

Sementara itu Mariam mengatakan, para intelektual besar yang pernah dimiliki peradaban Islam tidak pernah membedakan keilmuan Islam dan non-Islam. Mereka hanya mengandalkan reputasi hasil usahanya untuk diakui orang lain sebagai produk “orang Islam”. Belajar dari itu, ada baiknya kita tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Dan dengan demikian, integrasi keilmuan sangat perlu.

Dan secara garis besar, Amin Abdullah menegaskan, Ilmu-ilmu keislaman perlu berintegrasi dengan ilmu-ilmu lain guna menghadapi tantangan-tantangan yang baru yang sudah mempersatukan kita dalam kesadaran maupun praktek. Indonesia sangat layak untuk membuktikan kepada dunia, bahwa kajian keislaman akan berkontribusi besar kepada dunia (ar/shr).

"The Santosa Villas & Resort in Lombok, Indonesia"

-Dari lokasi AICIS, Bima Ballroom-


oleh Subdit Akademik | Edisi Tanggal: 19/11/2013 Jam: 20:39:12 | dilihat: 951 kali

Berita Terkait