Membangun Professional Learning di Kantor; Diktis Undang Pakar Pendidikan Dari Flinders University

Jakarta, 24/03/2014.

Untuk menghilangkan tersumbatnya suasana untuk tetap belajar dan meng-upate ilmu pengetahuan di kantor, berbagai upaya telah banyak dilakukan. Namun upaya tersebut seringkali “layu” sebelum berkembang. Untuk itu, dalam rangka menumbuhkan learning environment di kantor, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam mempelopori kegiatan professional learning dengan mendatangkan pakar pendidikan dari Flinders University, Assoc. Prof. Kerry Bissaker. Sebagaimana diutarakan Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dede Rosyada, M.A, bahwa kegiatan ini juga bagian dari upaya untuk mempererat kerjasama antar dua institusi, Flinders University dan Dirjen Pendidikan Islam. Bahkan, kerjasama yang dimaksud rencananya akan diperluas lagi melalui penandatanganan MoU yang akan dilangsungkan pada tanggal 10 Maret 2014 di ruangan Dirjen Pendis.

Dalam ceramahnya yang dialogis dan penuh keakraban ini, Prof. Kerry memulai dengan pertanyaan yang sangat kritis untuk para audiens terkait dengan kesediaannya menghadiri forum ini. Baginya sangatlah penting untuk mengingatkan para peserta motivasi menghadiri acara ini. Self-evaluation, inilah yang akan menjadi barometer akan adanya truly learning atau tidak. Apakah kehadirannya karena perintah pimpinan, atau berangkat dari upaya untuk menambah ilmu. Am I coming here because of the Director told me to do so?, begitulah statement Prof. Kerry mengawali perbincangan dalam quest lecturers series di kantor Kemenag baru, senin, 24 Pebruary 2014.

Dengan mengutip salah satu pakar dalam bidang organisational change, Fuller (1991), Kerry mengingatkan bahwa perubahan dalam dunia pendidikan begitupula organisasi tergantung oleh apa yang dikerjakan oleh guru (staff: orang-orang di dalamnya) dan apa pula yang dipikirkannya (peoples doing and think). Memang konsep tersebut keliahatannya simple dan pada saat bersamaan juga sesunguhnya sangatlah kompleks. Jadi seumpama Anda sebagai seorang pemimpin, berfikir “Saya ingin merubah kebiasaan kita melakukan pekerjaan di kantor ini”. Sebagian dari Anda (para hadirin, member of organisation) mungkin berfikir akan melakukan perubahan tersebut (we will do that). Namun demikian, kita lihat ternyata dibalik itu semua (deep down), kita mungkin tidak mau berubah sebagaimana organisasi menginginkan (kita) untuk berubah, lalu kita cenderung kembali lagi kepada hal-hal atau kebiasaan sebelumnya yang telah kita lakukan. Inilah, yang dimaksudkan sebagai “kompleksitas” kita sebagai manusia. Eksistensi (kita) sebagai manusia masing-masing telah membawa nilai dan tingkah laku (attitudes) yang berbeda-beda bagaimana kita melakukan sesuatu. Dan yang menjadi persoalan utama juga adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari manusia ternyata tidak suka perubahan (they don’t like changes), demikain tegas pengajar mata kuliah professional learning di Flinders university ini. Sebagian orang merasa tertekan dengan adanya perubahan. Mereka juga takut akan kekuasaannya akan hilang, begitupula posisinya.

MENGENALI KOMPLEKSITAS UNTUK PERUBAHAN

Perubahan manusia secara kelompok (group of peoples), tidak akan berhasil tanpa adanya perubahan secara individu (individual changes). Ketika individu-individu dalam organisasi mungkin berfikir untuk melakukan perubahan, tapi ada individu lain yang mau tidak mau ikut arus perubahan tersebut, maka tentu sikap individu ini akan menciptakan masalah, atau setidaknya menghambat perubahan yang diinginkan secara kolektif atau kelompok dalam organisasi.

Prof. Kerry juga mengingatkan bahwa perubahan dan suasana ingin terus belajar (learning) pada dasarnya dimulai dari diri kita, dimana harus dimiliki (owned), dan juga diatur (properly managed). Yang menjadi persoalan adalah bahwa budaya yang ada di sekolah dan juga organisasi, telah dibentuk (being set up) sedemikian rupa dengan pola pembelajaran passif (passive learners). Yang dimaksudkan dengan pembelajaran passif adalah kita mengharapkan untuk diberi tahu, oleh tempat kita berada apa-apa yang harus dikerjakan (we except to be told what to do), apa dan bagaimana harus belajar tanpa adanya unsur rasa ingin tahu (curiosity). Dalam dunia pendidikan kita berasumsi bahwa pembelajaran kita dikontrol oleh guru ataupun proses belajar kita dikontrol oleh pemimpin kita. Namun demikian, itu semua bukanlah tujuan tumbuhnya proses pembelajaran. Sayangnya, sekolah dan juga organisasi yang kita harapkan dapat membentuk para pembelajar yang active (active learner) justru membentuk karakter pembelajar passif (passif learner) yakni orang-orang yang menunggu intruksi, diperintah ataupun diberi tahu. Dan kita sekarang dihadapkan pada kenyataan ini.

Acara yang dipandu oleh alumni Flinders University M. Adib Abdushomad, M.Ed (L&M),Ph.D yang juga staff di Diktis ini, pada akhirnya menyadari bahwa proses pembelajaran boleh saja difasilitasi, bahkan di-design. Namun demikian, yang harus diperhatikan adalah bahwa kita bisa saja mendesign gairah belajar untuk muncul, namun tidak pembelajarnya (the learner). Maksudnya adalah siapa saja tidak bisa memaksa Anda untuk belajar (I cannot force you to learn anything). Karena proses belajar harus dimulai dari dirinya sendiri yang tertarik untuk belajar. Yang dapat dilakukan di kantor tentu saja adalah memberikan fasilitas untuk belajar (to facilitate people to learn), tapi rasa ingin tahu dan belajar menjadi pra syarat yang sangat fundamental. Disinilah “organisation that learn” bisa terwujud melalui orang-orang yang ada di dalamnya yang rindu untuk terus belajar.

Dengan mengutip beberapa teori peta pembelajaran (map of learning), seperti, Moon’s (1999), Hawley & Valli (1999), Fullan (2005), Desimone (2009), serta Brighouse and Woods, (1999) kegiatan ini berkesimpulan perlunya gerakan ganda (double movement) yaitu perlunya fasilitasi untuk ingin belajar di kantor (learning environment), meskipun tidak harus formal yang diimbangi dengan adanya upaya proaktif anggota dalam organisasi untuk tergugah terus belajar.

Semoga kegiatan quest lecturer series ini akan menjadi titik awal yang bagus untuk menggairahkan kembali semangat belajar komunitas yang ada di kantor. Karena spirit untuk terus belajar ini tidak saja monopoli mereka-mereka yang ada di dunia akademik, namun juga orang-orang kantor. Bahkan, dengan semangat belajar, sangat mungkin akan banyak tumbuh energy creator yang sangat dibutuhkan di kantor dan juga dunia akademik. Energy creator ini tipologinya adalah pribadi yang selalu positive thinking, entusias, selalu menstimulasi orang lain untuk bergerak, bahkan rela untuk membagikan pengalaman terbaiknya kepada orang lain. Semoga. (M. Adib Abdushomad)


oleh Subdit Kelembagaan & Kerjasama | Edisi Tanggal: 28/02/2014 Jam: 11:29:09 | dilihat: 1214 kali

Berita Terkait