Program 5000 Doktor Bukan Program Ambisius!

[Diktis, 29-01-2015] - Demikian ditegaskan Prof. Dr. Kamaruddin Amin, M.A., Ph.D, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, saat membuka acara Focus Group Discussion (FGD), Sharing Knowledge Program 5000 Doktor yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pagi ini, 29 Januari 2015, di Hotel Sofyan Betawi. Hadir dalam acara tersebut, para pakar dari beberapa perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) dan sejumlah instansi terkait, antara lain Prof. Bachrul Hayat, Ph. D, Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Dr. Machasin, Prof. Dr. Bachtiar Effendi, Ph.D., Prof. Dr. Azhar Arsyad, Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D., Prof. Dr. Gunaryo, Prof. Nur Cholish, Ph.D., Prof. Jamhari Makruf, Ph.D, dan beberapa doktor lulusan luar negeri dari UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui, Program 5000 Doktor telah di-launching di istana negara oleh presiden RI, Joko Widodo, pada tanggal 19 Desember 2014. Program yang direncanakan akan berlangsung selama 5 tahun ini dinilai oleh sebagian pihak sebagi program yang ambisius. Setiap tahun Kementerian Agama RI akan menyediakan 1000 beasiswa S3, dengan rincian 750 untuk beasiswa dalam negeri dan 250 untuk luar negeri. Namun dalam sambutannya, Kamaruddin Amin memastikan bahwa Program 5000 Doktor ini telah dipertimbangkan dan dirancang berdasarkan pemetaan dosen dan analisis kebutuhan untuk pengembangan kualitas PTKI.

FGD berlangsung sangat produktif dengan mendapatkan masukan dari para pakar mengenai sejumlah aspek penting, mulai dari standar pembiayaan, misi program, kualitas calon peserta, kualitas perguruan tinggi tujuan, hingga kejelasan anggaran dan manajemen.

“Pemberian beasiswa hendaknya jangan di bawah standar (beasiswa dari lembaga lain, red). Kalau bisa bahkan di atas standar,” demikian Prof. Azhar Arsyad memberikan masukan bagi pelaksanaan program. Mantan Rektor UIN Alauddin Makassar ini khawatir jika pemberian dana beasiswa di bawah standar akan menyebabkan program ini tidak diminati.

Program 5000 Doktor perlu juga dibarengi dengan penguatan program pascasarjana pada PTKI. "Ini penting, agar output dari program ini benar-benar berkualitas," demikian Prof. Machasin memberikan masukan. Menurut mantan Direktur Pendidikan Tinggi Islam ini, pascasarjana PTKI memiliki tiga kelemahan, yaitu 1) dosen pembimbing menangani terlalu banyak mahasiswa bimbingan, 2) kekurangan profesor, dan 3) program studinya banyak yang asal-asalan.

Sementara itu, Prof. Bahrul Hayat lebih menyoroti kejelasan missi dari program 5000 Doktor ini. “Missi Program ini harus jelas. Misalnya, meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan,” usul mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI ini. Kejelasan missi ini penting utuk memberikan arah bagi pencapaian sasaran program. Lebih lanjut, Bahrul Hayat mengusulkan agar Kemenag merekrut secara khusus calon dosen yang sejak awal memang diarahkan dan diproyeksikan untuk menjadi kandidat program 5000 Doktor ini. Di samping itu, pemetaan bidang ilmu yang akan diambil serta kualitas perguran tinggi tujuan harus menjadi bagian dari pertimbangan utama. "Harus dibuat daftar perguruan tinggi tujuan dengan hanya memilih perguruan tingg kelas menengah ke atas, jangan menengah ke bawah," tambahnya.

Sampai berita ini diturunkan, FGD masih berlangsung dengan mendengarkan masukan dari para pakar. [Mizan]


oleh Subdit Kelembagaan & Kerjasama | Edisi Tanggal: 29/01/2015 Jam: 11:21:00 | dilihat: 4169 kali

Berita Terkait