Laporan SCMP Leiden:
David Henley Kagum Terhadap Semangat Bhineka Tunggal Ika

Diktis (Leiden) – Rangkaian diskusi dengan para Indonesianis, seperti Gerard Persoon dan Nico Kaptein, peserta short course mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan Prof. David Henley, Rabu (30/12) kemarin. Henley memaparkan tentang pasang surut hubungan Indonesia-Belanda, sehingga di Universitas Leiden sendiri secara spesifik memberikan ruang kajian ke-Indonesiaan dan ke-Islaman. David Henley termasuk ilmuan yang ahli di kajian Indonesia kontemporer. Henley memiliki banyak karya dan naskah publikasi tentang Indonesia, sehingga hal tersebut menjadi bukti bahwa Henly seorang pakar kajian Indonesia dan Asia tenggara. Sebagai seorang ahli di bidang colonial studies, dia memaparkan dengan jelas tentang peristiwa perkembangan budaya dan ekonomi Indonesia di masa lalu, kekinian dan masa depan.

Dalam kajian tersebut dia membagi Indonesia menjadi 4 bagian. Pertama, Era colonial. Hubungan masyarakat belanda dan indonesia baik dalam bidang pendidikan, yaitu legal formal, seperti minat belajar Indonesian scholars belajar di sekolah Belanda yang ada di Indonesia dan Belanda. PhD pertama dari hubungan dua Negara di era ini adalah Pangeran Ario Jayadiningrat, yang kemudian menjadi ambassador. Dia juga salah seorang murid dari Snouck Hourgronje pada tahun 1936 di Kampus Leiden. Henley Juga menegaskan kontribusi sekolah Belanda memberikan pencerahan pemikiran kepada para scholars Indonesia pada saat itu seperti Budi Utomo, Sutan Syahrir, Tan Malaka, M. Hatta dan lain-lain, yang kemudian menjadi cikal bakal tokoh negara kesatuan Indonesia.

Kedua, era orde lama. Proklamator Indonesia Soekarno telah mendeklarasikan Pancasila sebagai falsafah negara. Pada saat kepemimpinannya, Soekarno fokus pada stabilitas keamanan negara paska kemerdekaan, seperti pembuatan kontitusi dan pemanfaatan sumber daya alam dan aset negara berupa tanah dimaksimalkan untuk kebutuhan dan kesejahtraan rakyat. Walaupun demikian aspek pertanian masih kurang dari cukup memenuhi kebutuhan hidup, sehingga tahun 1960-1965 Indonesia masih mengimpor beras dari beberapa negara tetangga.

Ketiga, era orde baru Soeharto. Henley menerangkan bahwa warisan Belanda secara implisit mempengaruhi kebijakan pemerintahan Presiden Suharto. Atas dasar semangat Bhinneka Tunggal Ika, Soeharto mengakomodasi semua perbedaan golongan dalam wadah partai Golkar. Dalam bidang ekonomi, pembangunan infrastruktur dan administrasi masyarakat Indonesia banyak dipengaruhi oleh Belanda. Dalam masalah legal hukum formal, sistem pendidikan, bangunan rumah, bendungan, sistem irigasi adalah beberapa contoh dari pengaruh tersebut. Secara politik Suharto memegang kuat falsafah Bhinneka Tunggal Ika untuk menyatukan keberagaman bangsa Indonesia. Sehingga kepemimpinannya nyaris dalam jangka 32 tahun berjalan cukup dinamis. Henley menggarisbawahi bahwa program Suharto yang paling menonjol adalah revitalisasi economic development melalui peningkatan dalam bidang pertanian. Secara bersamaan program lainnya yang sangat popular adalah transmigrasi dan family planning (KB). Walaupun demikian, Suharto memiliki kelemahan dalam bidang kebebasan hak warga negara dalam berkonstitusi, yang akhirnya tahun 1997 Suharto harus berhenti sebagai presiden.

Jika dibanding dengan negara lain, pada masa orde baru ini Indonesia merupakan negara yang perkembangan perekonomiannya lebih cepat dibanding negara ASEAN lainnya. Selain kebijakan pemerintah yang kuat, juga ditunjang oleh masyarakat yang komunal dan toleransi berbasis Bhinneka Tunggal Ika, Sehingga mendorong perkembangan ekonomi yang sangat cepat.

Keempat, era reformasi. Menurutnya, pemerintahan cenderung agak liberal, ditandai dengan munculnya banyak partai. Pemerintah memberikan kesempatan untuk lebih terbuka, mandiri dan berkompetensi, namun di satu sisi kebijakan pemerintah yang cenderung pro kepada investor asing, berdampak kepada banyaknya masyarakat yang kehilangan sawah yang diganti dengan pembangunan perumahan dan perusahaan. Di sisi lain, masa pasca reformasi membawa dampak positif negatif jika tanpa ada kendali pemimpin, seperti seringnya terjadi demo yang masif dengan membawa isu ras dan agama yang dapat mendorong kesenjangan sosial dan perpecahan. Henley juga memprediksi bahwa papua memiliki peluang untuk berpisah dengan alasan berbeda sejarah dengan suku yang lain. Namun semangat Bhinneka Tunggal Ika masih menjadi idiologi persatuan yang kuat.

Henley mengagumi semangat Bhinneka Tunggal Ika bangsa Indonesia, sebagai dasar kehidupan dan hubungan masyarakat dalam lingkup nasional agar dapat hidup toleran dan harmonis dalam keberagaman. (rid/n15)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 12/12/2016 Jam: 13:29:48 | dilihat: 356 kali

Berita Terkait