MEMPERKUAT RELASI KEMITRAAN UNIVERSITAS DAN MASYARAKAT.

Bandung (Diktis-UIN) – Aneka ragam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh PTKI menginisiasi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam bersama SILE Project untuk mempertemukan praktisi pengabdian dari perguruan tinggi. Kegiatan tersebut diformat dalam bentuk Training of Tranee—selanjutnya disebut ToT—yang dihadiri oleh 20 dosen yang merepresentasikan perwakilan PTKI, yaitu UIN Palembang, STAIN Metro Lampung, STAIN Kerinci, UIN SGD Bandung, STAIN Kudus, STAIN Pekalongan, IAIN Purwokerto, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Alauddin Makassar, IAIN Gorntalo dan IAIN Ternate. Kegiatan ToT ini dilaksanakan di Hotel Puri Katulistiwa Sumedang, Jawa Barat pada tanggal 8 s.d. 10 Desember lalu.

Forum ini difasilitasi oleh LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “ToT ini bermaksud menjaring beragam kesepahaman tentang urgensi program kemitraan perguruan tinggi bersama masyarakat yang saat ini menjadi kebijakan Diktis,” ujar Ramdani, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati. Pernyataan tersebut juga diamini oleh Munir, Ketua LP2M, “Kegiatan ToT ini merupakan langkah LP2M di dalam merencanakan grand desain program kemitraan”.

Sementara itu, Fuad Jabali sebagai bagian representasi SILE Project menggugah memori para peserta forum tentang awal lahirnya PTKIN. “PTKI ini lahir dari rahim masyarakat muslim,” ujarnya mengawali. “Kepada masyarakat seharusnya PTKIN mengabdikan keilmuannya yang core bisnis-nya di bidang ilmu-ilmu keislaman,” ujarnya menjelaskan.

Antusiasme para peserta ditunjukkan selama proses ToT ini dimulai. Hal terseut mendapatkan apresiasi dari Oyo Sunaryo Muchklas, Wakil Rektor II UIN Sunan Gunung Djati. “Antusiasme peserta untuk datang mengikuti kegiatan ToT ini patut diapresiasi, sekalipun pendanaan berasal dari DIPA masing-masing PTKIN”.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut difasilitasi oleh 3 fasilitator yaitu Zaenul Abbas, dosen IAIN Surakarta. Abbas—begitu panggilan akrabnya--menyampaikan tentang “Reposisi Kehidupan Kampus antara Keniscayaan Mengembangkan Ilmu dan keharusan Membangun Masyarakat.” Menurutnya, pelaksanaan pengabdian harus mampu menghadirkan dialog dengan dunia luar. Di sinilah, para pengabdian dituntut untuk lebih bisa mendialogkan dengan teori-teori di liar. Sedangkan fasilitator kedua disampaikan oleh M. Hanafi, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Hanafi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan lembaga pengembang CBR di Canada. Hanafi memperkenalkan tentang CBR (Community Based Research) dalam konteks PTKIN. Sementara itu, Irvan Mulyadi menjelaskan tentan model program kemitraan yakni ABCD dan Service Learning. Selain tiga fasilitator, dihadirkan pula Suhandoko, fasilitator dari REMDEC (Resources Management and Development Consultans) yang melengkapi model-model tentang pemberdayaan kepada masyarakat.

Hal-hal yang menggugah kesadaran bersama peserta adalah ketika Suhandoko menyampaikan tentang ciri-ciri khusus tentang pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat harus dipahami sebagai jembatan penghubung kemitraan universitas. Pemberdayaan memiliki karakteristik yang khas dan beda dengan pendekatan lain, yaitu bahwa pemberdayaan berorientasi pada pencerahan bukan penghakiman (salah-benar), prosesnya dilakukan secara dialogis dengan mengutamakan pengalaman para pihak dan bukan instruksional, cara pandangnnya menempatkan manusia memiliki potensi kekuatan dan pengalaman hidup untuk melakukan perubahan dan bukan melihat manusia sebagai bejana kosong yang harus diisi pengetahuan agar berdaya guna, fungsi pemberdayaan adalah memperbaharui bukan mengubah, tujuan pemberdayaan untuk memperbaharui sistem agar memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama sesuai konteks yang dihadapi dan bukan mengubah manusia agar menyesuaikan diri dengan sistem yang ditawarkan dan strateginya mendorong kesadaran kritis berdasarkan pengalaman hidupnya agar mampu memecahkan persoalan yang dihadapi ke arah yang lebih baik dan bukan mengajak untuk menerima dan menyesuaikan diri.

Di sessi terakhir acara, forum merumuskkan apa dan bagaimana LP2M akan memulai melakukan kemitraan ini. Beberapa usul yang menarik dan akan ditindaklanjuti adalah perlunya kurikulum pemberdayaan dan pengabdian untuk seluruh mahasiswa dan dosen, memiliki jaringan kuat antar LP2M dan juga berbagai pihak, memiliki metode pengabdian yang kuat, memiliki produk unggulan masing-masing LP2M, ketersediaan regulasi yang makin menguatkan posisi LP2M, memperkuat persoalan dan kepedulian terhadap masyarakat, memiliki rencana strategis, dan diktis memperkuat penganggaran pengabdian kepada masyarakat. Setiap perguruan tinggi diharapkan menindaklanjuti rumusan langkah-langkah tersebut. (n15)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 19/12/2016 Jam: 19:09:31 | dilihat: 618 kali

Berita Terkait