Penelitian adalah “Jantung” Perguruan Tinggi

Tangerang (Diktis, 21/12) - Begitulah pernyataan Isom Yusqi, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam pada saat menyampaikan arahan pada pembukaan Workshop Peningkatan Mutu Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Tangerang pada Senin (19/12) kemarin. Beliau juga menegaskan bahwa penguatan penelitian ini merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh untuk menggeser kecenderungan kebijakan dari pilar peningkatan akses ke pilar peningkatan mutu. Pelaksanaan penelitian yang bermutu harus dapat diukur, karena penelitian itu adalah jantung perguruan tinggi.

“Perumusan beberapa regulasi yang akan diselesaikan pada workshop ini diharapkan dapat memayungi langkah cepat peningkatan mutu penelitian,” arahnya lebih lanjut. Sebelumnya, Mamat S Burhanuddin, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat menyampaikan bahwa forum workshop ini menargetkan untuk menyelesaikan beberapa regulasi tentang penelitian, publikasi ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat. Regulasi tersebut adalah sebagai berikut; pertama adalah revisi Peraturan Menteri Agama No. 55 Tahun 2014 tentang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Beberapa isu terkini dimasukkan ke dalam peraturan tersebut, di antaranya adalah alokasi Bantuan Operasional Perguruan Tinggi (BOPTN). Kedua, Petunjuk Teknis Penelitian, Publikasi iLmiah dan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2017. Petunjuk teknis ini akan dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian dan pengabdian pada tahun 2017. Ketiga, Pedoman Perencanaan, Pelaksanaan dan Pelaporan Penelitian di Lingkungan Perguruan Tinggi Keislaman yang disesuaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.02/2016.

“Dengan tersusunnya beberapa aturan tersebut, diharapkan mutu penelitian bisa melaju kencang,” ujar Mamat dengan semangat. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah para dosen PTKI yang selama ini dilibatkan dalam mereview penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan publikasi ilmiah selain beberapa dosen yang menduduki jabatan pada unit LP2M atau P3M.

Di dalam forum ini, peserta forum ditegaskan untuk memperkuat rencana program dan tema penelitian yang dapat mendiseminasikan dan memperkenalkan Islam Indonesia di mata dunia. Maka dari itu, tersedianya data yang valid dan teori yang kokoh menjadi sebuah keniscayaan.

Untuk itu, menghadirkan data yang valid menjadi sebuah keharusan. “Program Direktorat harus berbasis pada data yang kuat. Ini akan dijadikan base line untuk penyusunan program mutu ke depan,” jelas Isom Yusqi menegaskan. Saat ini, menurutnya, terasa sulit menghadirkan data seperti dosen dengan karya ilmiahnya, dosen dengan artikel jurnal internasional, dosen dengan HKI-nya, dan sejenisnya. Padahal perguruan tinggi keagamaan juga berhadapan dengan pasar. Untuk itu, dalam menghadapi pasar harus diikuti dengan mutu. “Mengejar pasar tanpa peningkatan mutu, maka akan pincang,” tegasnya menjelang penutupan arahannya. Semoga, peningkatan mutu bisa tercapai. Wallahu a’lamu bis shawab.(n15).


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 21/12/2016 Jam: 11:52:38 | dilihat: 952 kali

Berita Terkait