Laporan Monev Penelitian dan PkM (2):
MENCIPTA KEBERKAHAN DARI BAHASA ARAB

Pekalongan (Diktis, 28/12) – Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat agar terjaga keberlangsungannya harus diintegrasikan dengan program studi pada PTKI. Begitulah kesimpulan dari refleksi mendiskusikan pasca melakukan monitoring program pengabdian P3M STAIN Pekalongan di Desa Tombo-Bandar Kabupaten Batang. Para penyelenggara perguruan tinggi harus kreatif dan berpikir untuk menciptakan model pengabdian seperti apa yang terintegrasi dengan program studi.

Dengan pendekatan integrasi riset dan pengabdian kepada masyarakat, P3M STAIN Pekalongan mencanangkan kampung bahasa Arab dari desa-desa yang selama ini menjadi binaannya. “Masyarakat harus bisa mendapatkan berkah bahasa Arab,” ujar Musofa Basyir, salah satu “korlap” pengabdian P3M STAIN Pekalongan. “Berkah bukan sesuatuu yang given, tapi dia harus diciptakan,” jelasnya lebih semangat.

Pada tahap pertama, “Kampung Bahasa Arab” ini dikeroyok pengerjaannya oleh dua program studi yakni Bahasa dan Sasta Arab dan atau Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.

Keterbatasan STAIN yang hingga saat ini tidak mempunyai asrama mahasiswa justru menjadi tantangan dengan program ini. P3M dapat melakukan pengkondisian rumah pendudduk yang akan dijadikan tempat kost mahasiswa. Pada tahap awal, mahasiswa diminta tinggal di rumah penduduk untuk melakukan pengkondisian “suasana bahasa” sesuai desain yang diinginkan. Kampung Bahasa Arab ini ditetapkan berada di sekitar kampus II STAIN Pekalongan. “Hal ini sekaligus akan menjadi media kontrol rumah atas rumah atau kos-kosan di masyarakat,” ujar Maghfur, Kepala P3M STAIN Pekalongan.

Kampung bahasa Arab ini mengingatkan pada “kampung Inggris” yang ada di Pare, Kediri, Jawa Timur. Di “Kampung Inggris” ini, dari kernet angkotan kota hingga tukang becak, sudah berbicara bahasa Inggris meski dalam ruang lingkup yang terbatas. Begitu pula di Kampung Bahasa Arab tersebut ke depan.

Dalam diskusi tersebut, juga muncul gagasan untuk menjadikan “Kampung Sinema” yang akan digarap oleh program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Kampung Tombo yang berada di Kabupaten Batang termasuk yang menjadi prioritas untuk ditetapkan sebagai Kampung Sinema dan bahkan juga Kampung Ekonomi Islam. Kematangan data yang diperoleh masyarakat bisa jadi bahan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kedekatan masyarakat Tombo dengan STAIN Pekalongan juga menjadikan masyarakat bersedia menjadi mitra laboratorium pemberdayaan ekonomi melalui program studi ekonomsi syariahnya.

Memperbaharui Model KKN

Kuliah Kerja Nyata—disingkat KKN atau nama lainnya—yang dilaksanakan secara konvensional dengan cara “menerjunkan” mahasiswa dalam satu periode di tempat-tempat yang tersebar di wilayah berbedea-beda dipandang kurang memberikan dampak pada perubahan kesadaran fundamental bagi masyarakat. Alhasil, program KKN hanya bersifat artifisial dan sementara. Untuk itu, dalam rangka mendukung program pengabdian berbasis program studi, PTKI harus berinovasi tentang model KKN yang lebih progressif. Salah satu tawaran yang telah dilaksanakan di Kampus Kota Batik ini adalah dengan menurunkan mahasiswa secara berkesinambungan dan terus menerus. Program KKN yang berlangsung selama 45-50 hari di tahap pertama dilanjutkan oleh kelompok selanjutnya untuk 40-45 hari ke depan, begitu seterusnya. Sehingga selama proses itu, masyarakat mendapatkan “sentuhan” secara berurutan selama bertahun-tahun. Mahasiswa juga akan mendapatkan pengalaman yang kaya tentang pendampingan dan pemberdayaan kepada masyarakat. (n15)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 29/12/2016 Jam: 04:41:45 | dilihat: 1226 kali

Berita Terkait