Menggagas Laboratorium Sosial PTKI

Diktis (Pekalongan, 15/3)-Presentasi yang dilakukan oleh LP2M di hadapan tim Subdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat pada Rabu (15/3) di Aula Rektorat IAIN Pekalongan menggagas inisiasi menciptakan laboratorium sosial PTKI. Dr. M. Zain, Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menyatakan kekagumannya dengan inisiasi model pengabdian kepada masyarakat yang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi keagamaan yang lainnya.

Gagasan untuk menciptakan laboratorium sosial ini sekaligus untuk menjawab tuduhan terjadinya kesenjangan antara perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. “Program studi yang ada di PT harus membawa manfaat kepada masyarakat,” ujar Mushofa Basyir, Sekretaris LP2M mengawali presentasinya tentang gagasan laboratorium sosialnya.

Shofa, panggilan akrab Mushofa Basyir, mencontohkan beberapa langkah penciptaan gagasan laboratorium desa tersebut seperti Desa Ramah anak di bawah prodi PIAUD, Desa Tangguh berbasis ihyaussunnah di bawah prodi Ilmu Hadis, Kampung Tahfidz Quran di bawah prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Desa ekonomi Islam ramah lingkungan di bawah prodi ekonomi Islam, Sufi Healing di bawah prodi Tasawuf, Kampung Bahasa dan Budaya di bawah program studi Pendidikan Bahasa Arab, Komunitas melek jurnalisme di bawah prodi Komunikasi Penyiaran Islam, dan lain sebagainya.

Dengan tema besaran menggagas perguruan tinggi peduli ummat untuk tahun 2016-2025 mendorong LP2M untuk menembus batas kreasi standar. Tombo sebagai contoh dari program laboratorium sosial menginformasiksan tahap-tahap awal program pemberdayaan.

Pendekatan pemberdayaan di tengah masyarakat yang diinisiasi oleh para civitas akademika IAIN Pekalongan menembus level dasar yakni membangun kesadaran masyarakat lokal untuk terciptanya kedaulatan dan kemandirian di berbagai bidang.

Masyarakat menjadi memiliki kemauan untuk meluangkan waktu menghitung aset yang dimilikinya. Prakarsa masyarakat menjadi tindak lanjut dari efek pendampingan menjadi menarik untuk diperhatikan.

Penciptaan laboratorium sosial tidak akan bisa tercapai hanya dengan waktu pengabdian satu bulan hingga satu tahun, namun harus bertahun-tahun dan simultan.

Ujung pemberdayaan ini diharapkan digarap oleh seluruh program studi yang akan bermuara pada terciptanya produk keilmuan baru seperti fiqh ketahanan pangan, BUMDES Syariah, pendidikan e-character, love speech, pendekatan pembelajaran bahasa Arab, dan lain sebagainya.

Kemandirian masyarakat untuk mengetahui aset desa patut diperhtungkan. Misalkan saja, bahwa informasi yang didapat pemerintah luas desa Tombo hanya berkisar 900 Ha. Namun setelah masyarakat melakukan pemetaan riil, jumlah luas tanah ternyata mencapai 2800 Ha lebih. Pengetahuan masyarakat tentang asset ini membangun kesadaran akan potensi yang telah dimiliki oleh desa. Pada akhirnya, PTKI yang core business-nya di bidang ilmu keagamaan, mau tidak mau juga menjangkau di luar keagamaan, seperti pertanian, teknologi, dan lain sebagainya.

Di kesempatan ini pula, disertai dengan penyerahan HKI dari Kementerian Hukum dan HAM kepada 21 Dosen IAIN Pekalongan, termasuk di dalamnya penyerahan HKI tentang Logo dan Mars IAIN Pekalongan. (n15)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 17/03/2017 Jam: 09:49:04 | dilihat: 392 kali

Berita Terkait