DARI TAHLILAN MENUJU KEDAULATAN PANGAN

Surabaya (Diktis, 17/03) – Selama sepekan terakhir ini, Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melakukan kunjungan terhadap PTKI yang mempunyai pengalaman terbaik program pengabdian. Setelah IAIN Pekalongan, kini sampailah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Dengan disambut oleh para pengabdi dan peneliti pada LP2M UIN Sunan Ampel, Dr. Muhammad Zain, disuguhi presentasi tim pengabdian yang selalu menempuh jalan yang “unik”., salah satuny adalah program pengabdian di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Jalur-jalur kreatif yang dimulai dari aktifitas “jamaah tahlilan” mampu membangun kesadaran dalam rangka menuju kedaulatan pangan. Begitulah model pengabdian kepada masyarakat yang ternyata seorang dosen ilmu agama ketika melaksanakan pogram pengabdian tidak bisa berhenti pada aspek keagamaan an sich, namun pasti selalu berhadapan dengan aspek hajat hidup masyarakat. Seperti akses air bersih, akses hidup sehat, kedaulatan pangan, dan lain sebagainya.

Tahlilan adalah ritual keagamaan yang diselenggarakan dalam rangka syukuran atau mendoakan arwah leluhur masyarakat. Ritual ini dijadikan pintu masuk untuk mengetuk kesadaran terdalam masyarakat agar mempunyai “kedaulatan”. Melalui program tersebut, masyarakat kemudian diharapkan dapat memperoleh kehidupan sejahatera dan merdeka.

Tujuan dari kunjungan tersebut bahwa subdit penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ingin menggodok sebuah model pemberdayaan masyarakat yang merupakan hasil kolaborasi beberapa model yang pernah ada dan berkembang di PTKI.

“Sebenarnya, model pemberdayaan masyarakat ini ingin merubah paradigm hubungan masyarakat dari objek menjadi subjek. Dari objek pengabdian menjadi mitra pemberdayaan. Ada dua model yang telah berkembang bahkan berkolaborasi di UIN Sunan Ampel ini yakni model riset aksi partisipatoris dan model pengabdian dengan Asset based community Development (ABCD)” jelas Nabila, mantas PIU Project SILE memperkenalkan.

Muhammad Zain mengatakan bahwa pola-pola pengabdian transformatif seperti yang dilakukan beberapa perguruan tinggi harus bisa dibagikan kepada masyarakat perguruan tinggi lainnya. “Nilai-nilai baik ini seyogyanya bisa menjadi mainstream bagi pengabdi dan peneliti perguruan tinggi,” ujarnya memulai diskusi.

Beberapa hal yang menggembirakan adalah keberanian perguruan tinggi untuk menjadikan model pemberdayaan tersebut sebagai mata kuliah. “Strategi ABCD dan PAR sudah terintegrasi sebagai mata kuliah dalam program studi terutama di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) di fakultas Dakwah dan Komunikasi”, jelas Agus Affandi, pelaku PAR UIN Sunan Ampel.

“Baik model PAR maupun ABCD ini terintegrasi dengan penelitian. Bahkan karena ujungnya ada penemuan “alat” tertentu bisa diajukan untuk didaftarkan sebagai HKI.,” ujar Agus lebih lanjut. Dengan demikian, pengenalan model baru ini selalu knowledge based. Manajemen pengetahuan dikelola sedemikian rupa untuk kemudian bisa dipublikasikan dlaam jurnal-jurnal ilmiah standar dunia. (ni5).


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 18/03/2017 Jam: 15:23:46 | dilihat: 374 kali

Berita Terkait