Dosen STAIN Kediri Tergugah Riset Islam Nusantara

Kediri (Diktis) --- Kota Kediri memiliki modal sosial yang begitu kaya, salah satunya tentang kekayaan pendidikan pesantren. Bagi praktisi pesantren, Kediri merupakan salah satu model "mazhab" tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. “Kediri ini memiliki kekayaan sumber-sumber penelitian," ujar Wakil Ketua STAIN Kediri Abdullah saat memberikan sambutan Sosialisasi Kebijakan Penelitian dan Pengabdian di STAIN Kediri di hadapan 60 penerima dana bantuan penelitian, Rabu (24/5) di Kediri.

Hal demikian juga diamini oleh Kepala P3M STAIN Kediri Wahidul Anam. “Kita tidak sadar kalau kita tinggal di surga penelitian,” ujarnya menegaskan. "Bidang pendidikan saja nyaris tidak tersentuh oleh akademisi. Bentuk kekayaan penelitian selanjutnya diuraikan lebih lanjut oleh Kepala Seksi Penelitian Dit. PTKI Anis Masykhur yang juga hadir di forum tersebut.

Syekh Subakir yang mempunyai nama asli Syekh Syamsuddin Al-Bakir Alfarsi adalah salah seorang ulama yang ditugaskan untuk "numbali" tanah Jawa yang kemudian dilanjutkan oleh para walisongo. Perjuangannya mengejar pemeluk Bairawa Tantra hingga ke Kediri nyaris tidak dikenal dalam sejarah Islam. Bahkan para peneliti dan dosen PTKI di sekitar keberadaan makam dan petilasannya tidak banyak yang mengetahuinya. “Perjuangan Syekh Subakir ini kemudian dilanjutkan oleh generasi Walisongo. Pengejaran atas pemeluk ritual pancamakara tersebut tersebar ke berbagai wilayah”, ungkap Anis Masykhur yang pernah menjadi Dosen Ilmu Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah menceritakan sebagian jejak petilasan Syekh Subakir.

Anis mencontohkan, misalkan saja di wilayah Jawa Barat ditangani oleh seorang ulama yang dikenal dengan sebutan Syech Qura, sedang ke wilayah gresik dan sekitarnya dilakukan oleh Ibrahim Asmaraqandi, dan di wilayah Kediri dan Tuban oleh Sunan Bonang. Pertemuan Sunan Bonang dengan pemeluk agama pelaku ritual pancamakara itu dimenangkan oleh Sunan Bonang, yang kemudian terjadi negosiasi dua pemeluk agama untuk selanjutnya melahirkan praktik tahlil dan begitu seterusnya.

Sebagian cerita tersebut sayangnya belum didukung oleh data yang memadai. "Perlu komitmen serius untuk menghadirkan data yang valid tersebut," respon salah satu peserta forum. Kisah tersebut diharapkan membangunkan kesadaran riset atas kearifan lokal di Kediri dan sekitarnya. Perlu kiranya support kebijakan untuk melaksanakan penelitian tersebut. Para dosen menjadi tergugah untuk menghadirkan teori-teori yang didasarkan pada riset-riset berbasis kearifan lokal. (n15)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 28/05/2017 Jam: 10:09:56 | dilihat: 786 kali

Berita Terkait