Muhammad Zain: Perlu Penguatan Keilmuan dalam Program Pengabdian Kepada Masyarakat

Bogor (Diktis) -- Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam mulai melakukan seleksi proposal bantuan pengabdian kepada masyarakat. Program bantuan pengabdian kepada masyarakat diharapkan dapat menghadirkan perguruan tinggi di tengah-tengah masyarakat dan tidak berada pada posisi menara gading.

Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Muhammad Zain mengatakan bahwa perguruan tinggi harus bermitra dengan masyarakat dalam posisi yang sama untuk melahirkan perubahan serta melihat pelbagai dinamika sosial.

Dikatakan M Zain, pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama telah dan sedang mengembangkan teori-teori sosial. Selama ini program yang dikembangkan Kementerian Agama melalui model seperti Community Based Research (CBR), Service Learning (SL), dan Asset Based Community Development (ABCD).

Menurut M. Zain, selama ini kritik terhadap pengabdian masyarakat yang diselenggarakan PTKI adalah pengabdian masyarakat yang belum melahirkan teori- teori sosial yang baru dan belum melahirkan pengetahuan. “Karena itu, sejatinya laporan pengabdian masyarakat haruslah menggambarkan dinamika sosial. Laporan pengabdian tidak sekedar layaknya laporan seorang kepala desa atau seorang mandor yang hanya memuat data-data yang tidak terefleksikan dengan baik oleh penulisnya”, ungkap Zain pada kegiatan Seleksi Proposal Bantuan Pengabdian Kepada Masyarakat, (21/6) di Bogor.

Dikatakan Zain, dinamika dan perubahan sosial kemasyarakatan berjalan dengan sangat cepat. Masyarakat adalah laboratorium hidup. Masyarakat adalah referensi atau perpustakaan raksasa. Masyarakat adalah sebuah keterhubungan dari keragaman. Masyarakat dan universitas semestinya terhubungkan secara esensial dan teknis. Universitas adalah masyarakat. Masyarakat adalah universitas. Masyarakat harus terlibat dalam proses konstruk ilmu yang dilakukan universitas. Universitas harus terlibat dalam proses pengembangan masyarakat. “Dosen di lingkungan PTKI harus melakukan proses itu dengan terlibat langsung dalam proses pengabdian kepada masyarakat dengan analisis sosial kritis dan strategi aksi yang kaya gagasan”, kata Muhammad Zain.

Untuk itu, Zain mengatakan bahwa metode yang ditempuh dalam pengabdian kepada masyarakat diharapkan berbasis riset. Setidaknya, lokasi pengabdian telah disurvei dan ditengarai bisa menjadi obyek pendampingan. Kerja pengabdian masyarakat dengan melakukan survei terlebih dahulu akan menambah gagasan, data serta teori-teori dan strategi aksi yang tepat.

Selain itu, dikatan M Zain, Peraturan Menteri Agama (PMA) No 55 Tahun 2014 dan SK Dirjen No 4834 Tahun 2015 adalah pengakuan terhadap strategisnya program pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks internasionalisasi PTKI, penegasan hubungan universitas-masyarakat memiliki arti strategis karena bisa menjadi prinsip dasar untuk menemukan originalitas ilmu dan menjawab kritik terhadap ilmu yang mereduksi kemanusiaan. “PMA dan SK Dirjen tersebut dapat mendorong seluruh PTKI untuk menerapkan model Kemitraan Universitas -Masyarakat sebagai salah satu bentuk pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Regulasi ini menjadi kunci dalam penguatan akademik dalam program pengabdian kepada masyarakat”, kata Zain.

Perlu Penguatan Keilmuan

Setelah melihat proposal pengabdian kepada masyarakat yang diusulkan oleh para dosen di lingkungan PTKI, reviewer memberikan catatan dan ulasan terhadap proposal yang ada. Ada beberapa permasalahan umum dalam penyusunan proposal pengabdian. Permasalahan tersebut antara lain isu dan fokus dampingan yang diusulkan masih sebatas permukaan dengan ditandai tidak ada keberanian mengangkat isu-isu krusial yang fundamental dan kritis. “Kalaupun ada seperti radikalisme, keterjagaan ekosistem, kemiskinan, hanya dilihat dari perspektif kulit dengan data yang sangat minim. Akibatnya, nampak kurang cermat dalam melihat realitas”, kata Muhid dari UIN Sunan Ampel Surabaya.

Menanggapi hal itu, Muhammad Zain mengatakan bahwa perlu penguatan keilmuan dalam proses pengabdian kepada masyarakat, baik dari sisi penyusunan proposal sampai pada strategi aksi yang akan dilakukan. “Untuk itu, tahun ini kami merencanakan program pengabdian kepada masyarakat disertai short course selama kurang lebh satu bulan dalam rangka penguatan akademik dalam pengabdian kepada masyarakat”, ungkap Zain. Gagasan ini akan ditindaklanjuti dengan program pengabdian kepada masyarakat yang mengalokasikan dana yang diterima diperuntukkan untuk short course pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, Dit. PTKI akan menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat dengan berkelompok yang dimulai dengan pilot project di beberapa lokasi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pada dosen dalam melakukan strategi aksi untuk mewujudkan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. (wildan)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 24/06/2017 Jam: 10:25:15 | dilihat: 351 kali

Berita Terkait