MAHASISWA STAIN JEMBER ’DIGEMBLENG’ DI LERENG GUNUNG SEMERU

(Jember, 24/2)-Sebanyak 72 mahasiswa Jurusan Ushuluddin dan Dakwah STAIN Jember digembleng dengan berbagai kegiatan penelitian di Puncak Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang selama 4 hari, Jumat-Senin (21-24/2) kemarin. Mereka diterjunkan untuk berbaur dengan masyarakat yang puluhan hidup rukun dalam dua agama (Islam dan Hindu) itu. Di ketinggian 2000 diatas permukaan laut di kawasan Gunung Semeru itu mereka belajar dari alam tentang kehidupan warga Tengger.

Puluhan mahasiswa itu dibagi menjadi enam kelompok dengan fokus tema tertentu. Diantaranya Mengenal Sistem dan Kecenderungan Politik Masyarakat Argosari, Menginterpretasikan Budaya dan Kesenian Masyarakat Argosari, Mengintegrasikan Pendidikan dan Kearifan Lokal Warga Argosari, Memetakan Potensi dan Pergerakan Perekonomian Warga Argosari, Peran dan Fungsi Gender di Tengah Masyarakat Argosari, dan Menakar Tingkat Pemahaman dan Praktik Keagamaan Masyarakat Argosari. Dengan dibagi setiap kelompok tersebut, mereka berkompetisi selama 4 hari 3 malam itu untuk menggali data dan menyajikan data yang terbaik di tengah-tengah masyarakat. ’Ini sekaligus menumbuhkan jiwa kritis mahasiswa sebagai agent of analysis sehingga dapat memotret fenomena kehidupan masyarakat secara nyata’ kata Ketua Panitia Siti Raudhatul Jannah, M.Med.Kom.

Selain penggalian data, mereka juga membuat laporan terhadap hasil penelitian yang sudah mereka lakukan. Dengan bimbingan para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), mereka melakukan penajaman terhadap setiap tema yang sudah ditentukan. Bahkan, jika data tersebut dirasakan masih belum cukup, mereka kembali terjun ke lapangan untuk memperdalam data yang didapatkan. ’Mahasiswa sebagai masyarakat kampus harus terbiasa dengan tradisi akademik, yakni penelitian agar mereka nantinya dapat pengalaman yang lebih luar biasa dari teori yang biasa didapatkan di kuliah-kuliah di kampus,’

katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, para mahasiswa harus ekstra waspada terhadap cuaca yang terjadi di desa tersebut. Sebab, dalam waktu sekarang ini, cuaca ekstrim berupa suhu dingin yang menusuk membuat sebagian mahasiswa harus ’Å“kuat rasa’ menahan ancaman suhu yang radikal itu. Selain itu, medan yang sulit dengan jarak rumah yang berjauhan, membuat mahasiswa harus berjuang menembus kondisi tersebut. Mahasiswa saat wawancara juga harus mengatur jadwal karena melihat pekerjaan warga yang kebanyakan petani sehingga kegiatan reportase dilakukan sebaik mungkin. Bahkan, untuk mendapatkan data dilapangan, mereka cukup melakukan wawancara dengan kepala Desa Argosari Ismail,

yang baru terpilih sekitar 3 bulan lalu. ’Mulai kepala desa hingga warga biasa

menjadi sumber informasi yang penting bagi peserta KKL, agar mendapatkan

data-data yang akurat,’ kata Kun Wazis, dosen yang ikut mendampingi mahasiswa.

Sambutan warga Argosari pun cukup antusias. Hal ini diungkapkan salah satu tokoh masyarakat setempat, yakni Ustad Rofiqin yang bergembira menerima kehadiran puluhan mahasiswa Jurusan Dakwah tersebut. Sebab, praktek KKL tersebut sekaligus memberikan ilmu bagi warga setempat dan sekaligus mempererat persaudaraan.’Yang diutamakan warga di sini adalah kerukunan, baik warga yang beragama Islam maupun beragama Hindu,’ ujarnya (Minan Jauhari/HUMAS)


oleh Subdit Kelembagaan & Kerjasama | Edisi Tanggal: 07/03/2014 Jam: 15:13:38 | dilihat: 1242 kali

Berita Terkait