Prodi Akuntansi Islam Pertama Dapat Akreditasi A

Jakarta (Diktis): Sejak didirikan tahun 2001, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia menggunakan istilah Akuntansi Syariah untuk salah satu program studinya. Setelah lima tahun berjalan, istilah itu dirubah menjadi Akuntansi Islam sejajar dengan istilah yang digunakan oleh perguruan tinggi Islam tersebut.

Istilah Akuntansi Islam masih menjadi perdebatan hingga saat ini, sebagian setuju, sebagian mengatakan tidak ada dalam nomenklatur ilmu akuntansi. Tidak mau pusing dengan perdebatan nama, Tazkia tetap menelurkan alumni–alumni handal setiap tahunnya dan baru baru ini mendapatkan predikat A dalam proses akreditasi program studi Akuntansi Islam.

Pembantu Ketua I STEI Tazkia, Sugiyarti Fatma Laela mengatakan kepada wartawan bahwa di peringkat nasional, predikat A ini baru berhasil digondol oleh program studi Akuntansi Islam dari Tazkia. “Sungguh amanah yang berat bagi Program Studi kami ke depannya” tambah Laela yang merupakan kandidat doktor Akuntansi Islam dari Universitas Indonesia ini.

Istilah akuntansi Islam itu sendiri dicetuskan pertama kali oleh Toshikazu Hayashi tahun 1989, seorang mahasiwa S2 di International University of Japan, dengan bukunya yang terkenal “On Islamic Accounting: Its Future Impact on Western Accounting.” Bagi Hayashi, akuntansi Islam punya lima makna; Yahsaba yang artinya mengukur, menghitung amal seseorang; Hasaba artinya menjadi netral; dan Tahasaba artinya mengharap imbalan di hari akhir, dan menjadi pemegang tanggung jawab.

“Arti luas ini paralel dengan asma–asma Allah seperti Al Hasiib dan Al Muhshy, yang bermakna bahwa Allah senantiasa menghitung dengan teliti dan memperhatikan dengan seksama semua yang terjadi dan berlaku di dunia yang kelak semua manusia akan ditanya pertanggung jawabannya” ujar Muhammad Syafii Antonio, Motivator Asmaul Husna dan juga Ketua STEI Tazkia ini.

Memandang pentingnya makna Islam sebagai “way of life”, Hussien Shehata, seorang Guru Besar Universitas Al-Azhar Mesir tahun 2001 mengatakan bahwa semua sistem baik sistem sosial, ekonomi, manajemen, dan akuntansi harus terintegrasi bagi semua pemeluk agama Islam. Adapun guru besar Akuntansi Islam di Inggris, Ros Haniffa dan Mohammad Hudaib tahun 2002 secara lebih detail lagi mengusulkan bahwa akuntansi Islam itu diperlukan untuk mencari keadilan ekonomi melalui prosedur, rutinitas, pengukuran, pengawasan, dan pelaporan yang terstruktur dan sesuai dengan nilai–nilai Islam.

Guru Besar bidang akuntansi Islam Universitas Trisaksi, Almarhum Sofyan Safri Harahap sudah berkecimpung banyak dalam riset dan sosialisasi akuntansi Islam semasa hidupnya. Harahap tahun 2003 mengkritisi instansi syariah di Indonesia yang tidak menanamkan nilai–nilai Islam di dalam pelaporan keuangannya. Menurutnya, instansi syariah adalah media untuk mempromosikan Islam sebagai agama yang benar dan harus total baik operasional dan pelaporan keuangannya.

Kontributor: Murniati Mukhlisin adalah Mahasiswi S3 di University of Glasgow, Skotlandia, Inggris/Penerima Beasiswa Diktis, Kementerian Agama Republik Indonesia.


oleh Subdit Kelembagaan & Kerjasama | Edisi Tanggal: 11/09/2014 Jam: 08:25:12 | dilihat: 2021 kali

Berita Terkait