ISIF Cirebon Meneguhkan Sebagai Pelopor Tradisi Orasi Sarjana

Diktis (Cirebon, 21/2) - Perguruan tinggi Islam harus dapat menjadi solusi umat. Dalam wisuda sarjana Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) ke-3 tahun 2017 kemarin (Senin, 20 Februari 2017) hal itu tercermin dari orasi (pendek) ilmiah mahasiswa sebelum diwisuda. Orasi ini adalah ringkasan hasil skripsinya. Tentu saja orasi itu hanya perwakilan setiap program studi dari skripsi terbaiknya. Dalam amatanku orasi ilmiah mahasiswa itu lebih baik daripada sambutan wakil mahasiswa yang diwisuda. Kalau dalam sambutan mahasiswa itu hanya tersampaikan ucapan terima kasih dan beberapa pengalaman penting selama kuliah. Hal itu lumrah saja seperti juga kemarin kita dengar dari mhs ISIF yang melakukan itu.

Yang berbeda dari orasi ilmiah mahasiswa di atas adalah adanya informasi baru dari hasil kajian skripsinya. Mengingat ISIF sebagai perguruan tinggi Islam di bawah Yayasan Fahmina, maka ISIF juga membawa amanat pemikiran ala Fahmina. Seperti diketahui, Fahmina merupakan salah satu NGO yang bergerak di bidang penguatan tradisi Islam berbasis pesantren, maka kajian Islam mahasiswa juga tidak lepas dari tradisi pesantren. Hanya saja, studi pesantren di Fahmina sudah melakukan transformasi dengan keilmuan sosial humaniora kontemporer, seperti tradisi sosial kritis tentang keberpihakannya pada kemanusiaan, gender (jinsiyyah), pluralisme (ta’addudiyat) dan human right (huquq al-insaniyah).

Di antara contoh kajiannya adalah suluk wayang, relasi umat Islam dan kristiani, tradisi Cap Gomeh, sastra pesantren, dst. Hal mendasar lagi dari tradisi riset mahasiswa ISIF ini berangkat dari realitas yg dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya mahasiswa dari Pesantren Pondok Jambu Babakan Ciwaringin, dia mengkaji karya-karya bu nyai Masriyah yg jg pengasuh di pesantren tersebut. Memang ada problem obyektivisme, tetapi dengan pendekatan ilmu sosial kritis, problem tersebut dapat diminimalisir melalui teori-teori kritis yg diambilnya, seperti hermeneutika.

Dengan demikian, melalui orasi ilmiah pendek mahasiswa tersebut, kita sebagai tamu undangan, selain disuguhi tradisi seni lokal, juga tradisi baru PTKI tentang hasil riset mahasiswa yg terbaik yang mencerminkan visi misi dari PTKI tersebut. Bravo ISIF dengan ciptaan tradisi baru orasi ilmiah mahasiswanya. Sekalipun dengan itu juga tetap menyuguhkan orasi ilmiah dari doktor terbaru yang dimiliki ISIF. Kombinasi tradisi orasi ilmiah yang keren, dari mahasiswa dan dosennya.

Saya yang hadir sebagai undangan pribadi yang pernah khidmah di ISIF sejak 2008/2012 secara sukarela, benar-benar terpesona dan bangga melihat para mahasiswa ISIF di atas. Tentu saja hal itu tidak lepas dari sumbangsih civitas akademika ISIF yg dengan telaten dan sabar membimbing dan menemaninya. Sebab, tak sedikit dari mahasiswa ISIF juga adalah aktifis sosial seperti di Pemuda Lintas Iman (Pelita) Cirebon. Tak diduga, ternyata saya jg diminta utk memberi sambutan atas nama Direktur Diktis, kebetulan saya memang baru beberapa hari diangkat menjadi Kasi Publikasi Ilmiah di Diktis. Untuk menghormati pembawa acara, sayapun beranjak dari tempat duduk. Nah, pada sambutan singkat itu saya sangat mengapresiasi ISIF, mulai dari pihak yayasan (NGO), rektorat, dekanat, hingga mahasiswanya, semoga tradisi orasi ilmiah itu tetap dipertahankan dan syukur dapat menjadi contoh PTKI lainnya.

Catatan penting pada prosesi wisuda ISIF kemarin adalah bagaimana sebuah perguruan tinggi Islam di Indonesia berani meluluskannya, setelah ikut ujian perspektif ISIF, yakni harus dapat menjawab soal-soal terkait keberpihakannya pada keadilan relasi lelaki perempuan, HAM, Pluralisme dan yang terkait dengan visi misi dan tujuan ISIF lainnya, seperti Islam yang rahmah bagi semesta, bukan melahirkan radikalisme, liberalisme, dan seterusnya yang dapat merongrong wibawa Islam dan kebangsaan Indonesia. Pertanyaan untuk PTKI lainnya, apakah ada garansi lulusan sebuah PTKI untuk visi misi dan tujuan PTKI itu?? Sudah adakah ujian perspektifnya? Saya mencatat ujian perspektif ini, setelah mendengar sambutan Kyai Husein Muhammad sebagai ketua Yayasan Fahmina pada wisuda tersebut, bahwa mahasiswa ISIF tidak boleh wisuda sebelum lulus ujian perspektif yang tidak ada SKS-nya. Luar Biasa. Sebuah pekerjaan berat bagi penyelenggara PTKI untuk menjaga nilai-nilai yang diusungnya. Itulah prinsip khas para ulama, kyai, ajengan, tuan guru, buya, yang moderat dan menjunjung nilai-nilai yang diyakininya (ayus).


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 23/02/2017 Jam: 11:22:01 | dilihat: 395 kali

Berita Terkait