Digitalisasi Manuskrip Perpustakaan dengan Crowdfunding

(Laporan Peserta Short Course Metodologi Penelitian di Leiden University)

Jum’at pukul tiga petang. Peserta Short Course PTKI telah mengikuti pelatihan bagaimana cara menggunakan catalog dan data base di universitas Leiden. Ada yang menarik bagi saya ketika membuka laman perpustakaan Leiden muncul headline ‘Unlock Prince Panji to the World: now awarded world heritage status by UNESCO’ Ini adalah projek digitalisasi manuskrip Panji oleh perpustakaan Leiden. Adapun cara yang dilakukannya dengan menggunakan crowdfunding untuk mendapatkan funding dari masyarakat umum untuk mendukung digilitalisasi manuskrip Panji yang nantinya masyarakat dapat membacanya dalam bentuk digital. Biasanya sarana yang digunakan crowdfunding adalah media digital, seperti website, sosial media dan lainnya.

Crowdfunding merupakan salah satu alternatif untuk mendapatkan modal dari publik dengan patungan, untuk mewujudkan suatu proyek komersial maupun penggalangan dana untuk kepentingan sosial. Ada lima bentuk crowdfunding yang populer dilakukan di dunia. Pertama, model donasi yaitu individu-individu masyarakat mendonasikan uangnya untuk suatu projek tanpa mengharapkan kompensasi. Model kedua berbentuk reward yang pastinya lebih kecil dari jumlah yang didonasikan oleh masyarakat. Bentuk yang lainnya adalah crowdfunding berbasis pinjaman dan investasi. Apa yang dilakukan perpustakaan Leiden merujuk pada kategori kedua. Contohnya dengan 25 euro masyarakat akan mendapatkan Buku Tahunan Asia Leiden, dengan 50 euro akan mendapatkan re-produksi cerita panji, dan 100 euro akan diundang menghadiri seminar panji di bulan Desember 2017.

Projek ini penting sekali, tidak saja dapat dimanfaatkan (untuk mempelajari sejarah) bagi khalayak ramai tetapi (juga untuk) menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan (leluhur) dalam bentuk digitalisasi manuskrip. Sudah saatnya, manuskrip-manuskrip yang ada di Indonesia digitalisasi. Namun yang perlu diingat bahwa digitalisasi manuskrip membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lama. Crowfunding merupakan salah satu alternati dan solusi untuk mempercepat digitalisasi manuskrip dengan cara menggunakan yang sudah ada seperti kitabisa.com, media sosial atau membuat platform yang baru dimiliki oleh perpustakaan. Bukan hanya digitalisasi manuskrip, perpustakaan di Indonesia baik nasional, daerah dan yang dimiliki universitas-universitas bisa menggunakan crowdfunding ini untuk projek-projek lainnya seperti penambahan koleksi-koleksi perpustakan, fasilitas dan renovasi bangunan. Ada kata bijak dalam bahasa Inggris tentang pentingnya, “Library is a Hospital for the Mind”, artinya semakin lengkap koleksi perpustakaan dan fasilitasnya, maka makin menyehatkan akal kita.

Nurizal Ismail

Peserta Short Course on Research Methodology Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam 2017 di Leiden University


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 22/11/2017 Jam: 12:24:43 | dilihat: 197 kali

Berita Terkait