Ketua STAIN Sorong: Menjadi Aktivis Bagian Dari Karakter Sosial

Sorong (Diktis) - Menjadi aktivis mahasiswa dan kepemudaan adalah bagian dari bentuk pengembangan karakter sosial. Disamping karakter sosial mahasiswa juga harus menajamkan karakter individual, kolektif dan karakter sosial untuk menghadapi kehidupan saat ini. Demikian ditegaskan Hamzah Ketua STAIN Sorong di hadapan mahasiswa Bidikmisi peserta Workshop Pengembangan Caracter Building Mahasiswa Bidikmisi pada Kamis (28/12) di Kampus STAIN Sorong.

Lebih lanjut dikatakan persoalan karakter amat penting bagi masa depan bangsa. Islam melalui Muhammad adalah contoh terbaik dalam bersikap dan berbuat atas dasar keluhuran akhlak. Nabi diutus oleh Allah adalah untuk menyempurnakan akhlak, innama bu`istu liutammima makarimal akhlak.

Menurut lulusan UIN Alauddin Makassar ini, karakter harus dididik, dilatih dan dibudayakan melalui pendidikan. Namun yang terpenting adalah melalui pembiasaan dan modelling. Dalam istilah modern disebut budaya organisasi.

Papua Barat adalah provinsi terendah dalam indeks pembangunan manusia (IPM) dan STAIN ikut bertanggunghawab akan kondisi itu. Karenanya Hamzah meyambut baik program Bidikmisi dari Kementerian Agama RI. Saya berharap ditahun yang akan datang kuota bidikmisi untuk kampus kami dapat ditambah.

Ruchman Basori Kasi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) mengatakan perlakuan khusus dan keberpihakan (afirmasi) harus terus dilakukan untuk meningkatkan pendidikan di daerah. Beasiswa Bidikmisi dan Afirmasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Adiktis) untuk Daerah 3T dan Bidikmisi adalah salah satu program yang diberikan utk anak bangsa yang berasal dari daerah ini.

Selain itu, lanjut Ruchman, Kementerian Agama memberikan pelbagai program yang diperuntukan untuk mengembangkan mahasiswa secara umum seperti bantuan Tahfidz Al Quran, Bantuan Prestasi Akademik, Bantuan Pemagangan Mahasiswa dan Bantuan Lembaga Kemahasiswaan.

Pemerintah melalui Kementerian Agama RI telah memberikan Beasiswa Bidikmisi dari mulai tahun 2011 hingga 2017. Kurang lebih 28.166 mahasiswa PTKIN (UIN, IAIN dan STAIN) mendapatkan manfaat Bidikmisi dengan perincian PTKIN 26.944 orang dan PTKIS 1.220 orang. Jumlah yang masih sangat sedikit, jika dibandingkan dengan yang diberikan pada mahasiswa PTU.

Mereka mendapatkan beasiswa full study selama 4 tahun. Jumlah mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi namun memiliki berprestasi saat di bangku SLTA yang beruntung mendapatkan Bidikmisi, dari tahun ke tahun adalah: 2011 (2.020 orang), 2012 (2.100 orang), 2013 (2.876 orang), dan 2014 (2.220 orang). Mulai tahun 2015 Bidikmisi sudah merambah ke PTKIS. Tahun 2015 untuk PTKIN berjumlah 4.780 dan PTKIS 220 orang. Tahun 2016 PTKIN 6.750 dan PTKIS 500 orang. Sedangkan pada tahun 2017 ini untuk PTKIN berjumlah 6.200 dan PTKIS 500 orang. Total anggaran yang telah disalurksn berjumlah Rp. 214.692.000.000,-

Umar Sulaiman Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STAIN Sorong mengatakan Workshop Pengembangan Caracter Building Mahasiswa Bidikmisi dimaksudkan agar para mahasiswa Bidikmisi mempunyai keunggulan akhlak, moral dan karakter, sehingga mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya di Indonesia. Diikuti oleh 100 mahasiswa angkatan 2016. Umar menerangkan penerima Bidikmisi berjumlah 290 orang dengan perincian mahasiswa angkatan 2013 berjumlah 30 orang, 2014 berjumlah 19 orang, 2015 berjumlah 40 orang dan pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing 100 orang. (pipo)


oleh Subdit Penelitian | Edisi Tanggal: 03/01/2018 Jam: 10:31:13 | dilihat: 933 kali

Berita Terkait