Bandar Lampung — (Diktis) Citra Islam Indonesia di dunia Barat berada dalam dua kutub yang berbeda. Yang pertama dalam lingkungan akademik dan yang kedua di luar lingkungan akademik. Pemetaan ini dilakukan oleh Prof. Sumanto Al-Qurtuby untuk melihat posisi dan citra Islam di dunia Barat. “Citra Islam di lingkungan akademik cenderung positif. Tapi sebaliknya, di luar lingkungan akademik, citra Islam masih sering dianggap menakutkan”, demikian dikatakan Sumanto setelah menyampaikan Keynote Speech pada Forum Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) 2016 di ruang transit gedung GSG IAIN Raden Intan Lampung, Rabu, 2/11.

Citra Islam di luar lingkungan akademik seringkali disandingkan dengan konflik yang berkepanjangan. Hal ini disebabkan oleh pemahaman orang terhadap Islam yang terlalu kaku. Di luar lingkungan akademik, Islam masih seringkali dipahami sebagai agama yang tidak terbuka dengan komoderenan, intoleransi, membenci terhadap tradisi lokal. Faktornya banyak dan salah satunya media. Saya contohkan misalnya kelompok Islam apobhis yang dibiayai oleh logika bisnis, demikian terang Sumanto.

Karena itu, menurut Sumanto, penting untuk terus memasarkan citra Islam yang positif, ramah, toleran dan damai dalam setiap sendi kehidupan, baik di lingkungan akademik maupun diluar lingkungan akademik. Saya kira, dalam konteks ini, tidak ada bedanya dengan Islam Indonesia. Islam Indonesia harus dipromosikan ke dunia global, baik itu dari sisi kontibusinya maupun dari aspek lainnya, ungkap pengajar di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Saudi Arabia itu.

Dikatakan Sumanto, praktik keberislaman seperti ini harus dilakukan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Paling tidak, untuk mengangkat langit keilmuan Islam Indonesia, marketingnya harus dilakukan dengan sistematis. Prosesnya panjang namun akan berakhir dengan gemilang, tegas asistant professor yang pernah mengajar di Kroc Institute for International Peace Studies University of Notredame itu.

Islam Indonesia mimiliki distingsi dan kekayaan yang luar biasa. Kelemahannya hanya pada proses untuk memasarkan dan mempromosikan ke kancah global. Sekali lagi, kuncinya terletak pada pengemasan dalam mempromosikan Islam Indonesia, kata Sumanto. Dengan demikian, kontribusi Islam Indonesia terhadap peradaban dunia akan menjadi referensi dan barometer perkembangan pemikiran Islam dunia, baik itu di lingkungan akademik maupun diluar akademik. (wild).