Bandar Lampung (Diktis) Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2016 menjadi forum komunitas akademik di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Forum ini juga menjadi ajang para dosen dan peneliti untuk menelorkan gagasan, pikiran, ide, dan temuan yang brilian dengan pelbagai topik yang variatif. Pertemuan tahunan dalam mendialogkan hasil-hasil penelitian telah menjadi media untuk membangun jejaring akademik baik lokal atau internasional.

Dikatakan Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Amsal Bakhtiar, forum AICIS telah menjadi arena akademis civitas akademika PTKI yang mempertemukan berbagai latar belakang disiplin ilmu, pemikiran dan keahlian. “AICIS merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengaktualisasikan potensi riset dan publikasi ilmiah di perguruan tinggi keagamaan Islam”, demikian ungkap Direktur Diktis.

Tanpa disadari, AICIS yang diselenggarakan di kampus IAIN Raden Intan Lampung telah memasuki tahun ke-16. Ini menandakan bahwa kontribusi civitas akademika begitu besar yang didapatkan dari forum yang awalnya diinisasi oleh direktur pascasarjana ini. Dari tahuan ketahuan, menurut Amsal, paper yang masuk selalu melaumpaui target. “Ini berarti bahwa gairah para peminat kajian keislaman yang ingin meramaikan forum ini sangat tinggi”, kata Amsal.

Sementara Kasubdit Pengembangan Akademik, Dr. Muhammad Zein menilai bahwa forum AICIS merupakan wadah yang tepat untuk mendialogkan gagasan, pikiran, dan temuan-temuan baru. Zein juga melihat bahwa AICIS menjadi media membangun jejaring intelektual antar akademisi. “AICIS adalah perhelatan akademik bagi pengkaji Islam untuk sharing ideas dan sekaligus memperteguh watak Islam Indonesia yang moderat dan toleran”, demikian kata Kasubdit.

Dalam forum ACIS, tema-tema penelitian dosen di perguruan tinggi keagamaan Islam dan keterlibatannya dalam persinggunggan keilmuan Barat dan Timur Tengah memungkinkan dalam pembentukan karakteristik tersendiri dalam pengembangan pemikiran Islam Indonesia. Karakteristik ini tentu menjadi kontribusi besar bagi peradaban dunia. Selan itu, kekhususan ini menunjukkan aspek lokalitas studi Islam Indonesia dimulai dari pembacaan konteks yang dihadapi oleh intelektual perguruan tinggi. (wild)