ONSTAGE DISCUSSION 1

The Current Development of Islamic Studies

Day 1 – Monday- September 17, 2018
Auditorium 1 IAIN Palu
19.00-21.00 WITA

Perhelatan AICIS ke-18 tahun 2018 di Palu pada hari pertama (17/9) diawali dengan kegiatan Onstage Discussion (OSD) 1 yang mengangkat sebuat tema tentang perkembangan kajian Islam di Indonesia dengan  menampilkan beberapa pembicara baik dalam maupun luar negeri seperti Prof. Amin Abdullah (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Oman Faturrahman (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta),  Dr Amelia Fauzia (Asia Research Institute-NUS), Prof. Kamaruddin Amin (Dirjen Pendis) dan  Prof. M. Machasin (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Acara yang dimulai pukul 19.00 WITA dimoderatori oleh Prof. Dr. Arskal Salim GP, MA (Direktur PTKI).

Speakers :
Prof. Dr. M. Amin Abdullah, MA
Prof. Dr. M. Machasin, MA
Prof. Dr. Oman Faturrahman, M,Hum
Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA
Dr. Amelia Fauzia

Host :
Prof. Dr. Arskal Salim GP

Dalam pengantarnya, Prof. Dr. Arskal Salim menyatakan bahwa telah mejadi tradisi dalam AICIS sebelum opening ceremony diadakan Onstage Discussion (OSD). OSD kali ini membahas tentang perkembangan kajian islam di Indonesia baik yang telah dilaksankan oleh PTKI maupun Kemenag serta berbagai tantangan, hambatan dan solusinya unruk di masa yang akan datang. Untuk mengawali pembicaraan mengenai hal itu, moderator menanyakan kepada Prof. Amin Abdullah tentang perkembangan kajian Islam di Indonesia selama 30 tahun belakangan.

Prof. Dr. M. Amin Abdullah, MA
Menanggapi pertanyaan moderator mengenai perkembangan kajian Islam di Indonesia selama 30 tahun terakhir, beliau menyoroti hal itu dari dua sisi, yaitu posisi beliau sebagai insider, akademisi di lingkungan Kemenag dan outsider sebagai tenaga ahli di LIPI. Sebagai outsider, beliau melihat bahwa pendidikan Islam di Indonesia telah mampu mengantarkan generasi muslimnya bersaing dan berperan di kancah dunia Internasional. Corak pendidikan Islam di Indonesia yang relatif terbuka terhadap segala perubahan menjadikannya mudah berdaptasi dengan modernitas. Sehingga beliau berani menyatakan bahwa Islam Indonesialah yang siap memasuki era modernitas. Hal itu bisa dilihat dari pendidikan Islam yang ada di Indonesia mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki negara muslim lainnya yaitu mengajarkan toleransi, terbuka, harmonis antar pemeluk agama. Dan salah satu yang peran membentuk situasi ini adalah adanya PTKIN di lingkungan Kemenag. PTKIN-PTKIN ini menurut beliau membantu keharmonisan ini agar terus terjaga. Salah satunya dengan cara menggelar forum tahunan seperti AICIS ini dari sisi akademisnya.
Sementara dalam pandangannya sebagai insider, beliau melihat bahwa kajian Islam selalu dinamis tidak hanya melulu mengkaji tentang Islam normatif, melainkan harus mampu merespon perkembangan zaman. Kurikulum Pendidikan Islam harus mulai diupgrade dengan situasi kekinian di mana harus mampu mencerahkan generasi revolusi Industri. Dalam era
Industri 4.0 seperti sekarang ini, mata kuliah di PTKI harus di desain dengan baik sesuai dengan kondisi sekarang, mengingat generasi sudah berbeda. Untuk itu, beliau berpendapat bahwa Kemenag sekarang ini menghadapi tantangan yang lebih berat dari pada Kemenristek Dikti karena selain mengurusi hal-hal yang umum juga mengurusi agama. Kemenag perlu mulai memperkuat strukturnya di bawah Sekjen untuk bertemu secara rutin membahas hal-hal berkaitan dengan kemajuan dan dinamika kurikulum Ijtihad-ijtihad kita dalam kaitannya dengan Islam dan modernitas sangat dinanti oleh Dunia.

Memorable Quote:
“ Corak pendidikan Islam di Indonesia yang relatif terbuka terhadap segala perubahan menjadikannya mudah berdaptasi dengan modernitas, sehingga Islam Indonesia lah yang siap memasuki era modernitas”.

“Kurikulum Pendidikan Islam harus mulai diupgrade dengan situasi kekinian di mana harus mampu mencerahkan generasi revolusi industri. Mata kuliah di PTKI harus sesuai dengan kondisi sekarang karena generasi sudah berbeda”

Prof. Dr. M. Machasin, MA
Dalam hal perkembangan kajian Islam di Indonesia, beliau menyoroti tentang banyaknya harapan bahwa kajian Islam Indonesia akan memenuhi kebutuhan kajian Islam dunia. Karena Islam di Indonesia dalam hal menyikapi isu-isu modernitas seperti demokrasi, pemilu, persaingan ekonomi, Islam dianggap tak mengalami gejolak yang cukup berarti. Namun dalam hal literasi Islam inilah yang menurut beliau masih kurang di Indonesia. Harapan besar kepada kajian Islam di Indonesia tidak berbanding lurus dengan peningkatan produksi ilmu oleh para pengkaji Islam. Artinya para pengkaji Islam sendiri belum siap menekuni studi Islam supaya mampu menjadi referensi dunia. Dalam konteks kajian Islam di PTKI belum banyak bersambung dengan apa yang diharapkan masyarakat. Untuk itu, menurut beliau sudah waktunya PTKI meneliti secara khusus problematika yang dihadapi masyarakat sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Atau dengan kata lain ada titik temu antara apa yang dibutuhkan masyarakat dengan yang dihasilkan PTKI. Secara kuantitatif, beliau mengakui bahwa produksi ilmu pengetahuian PTKI telah lumayan banyak dan cukup membanggakan. Namun, dalam sisi perannya terutama dalam ikut menyumbang pengarahan pemahaman publik terhadap ajaran Islam masih perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu, supaya pada saatnya kajian Islam di Indonesia menjadi referensi dunia.

Memorable Quote:
Secara kuantitatif, produksi ilmu pengetahuian PTKI telah banyak dan cukup membanggakan. Namun perlu meningkatkan perannya dalam upaya pengarahan pemahaman publik global terhadap ajaran Islam, supaya pada saatnya kajian Islam di Indonesia menjadi referensi dunia”.

Prof. Dr. Oman Faturrahman, M.Hum
Perkembangan kajian Islam di Indonesia menurut Oman Faturrahman, seorang pakar filologi Islam Indonesia yang melihat dari persepektif filologi menyatakan bahwa dalam level global, kajian Islam di Indonesia harus diakui masih belum maksimal. Berdasarkan pengelamannya saat berkunjung ke negara-negara barat, kajian Islam belum menjadi keahlian khusus dari Indonesia dan belum banyak ahli yang bisa menjadi referensi dunia. Artinya orang barat tidak banyak yang tahu keahlian atau kajian dari Indonesia. Untuk menjadi ahli terkemuka di bidang kajian Islam sebenarnya masih terbuka lebar yang salah satunya menjadi ahli filologi Islam. Karya-karya sarjana muslim yang sangat kaya di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia dalam berbagai manuskrip masih belum menjadi keahlian yang menarik bagi sarjana muslim. Padahal Manuskrip-manuskrip kajian Islam tersebut sebagian besar berbahasa Arab dan Persi. Dan di Indonesia khususnya kajian Islam yang berbasis manuskrip masih tergolong kelompok marginal. Sementa di Eropa telah ada kajian manuskrip Islam Asia dan Indonesia yang semua para ahlinya justru dari luar negeri.

Memorable Quote:
“Di Indonesia khususnya kajian Islam yang berbasis manuskrip masih tergolong kelompok marginal. Sementara di Eropa telah banyak berdiri pusat kajian manuskrip Islam Asia dan Indonesia yang semua para ahlinya justru dari luar negeri”.

Dr. Amelia Fauzia
Amelia melihat ada kenaikan yang cukup signifikan pada penguatan kajian-kajian Islam di Indonesia. Dan menurutnya Ini sangat menggembirakan bagi kelangsungan kajian Islam di masa mendatang. Beberapa diantaranya adalah semakin banyaknya beasiswa yang diberikan dalam kaitannya dengan Islamic Studies di negara-negara barat. Secara kuantitas memang terlihat cukup signifikan, namun secara kualitas masih perlu didiskusikan. Beliau melihat dari beberapa riset-riset tentang kajian Islam dari segi ide memang sangat luar biasa, namunmasih lemah di cara pandang dan metedologi. Beberapa proposal yang yang beliau terima tentang kajian Islam masih banyak yang tidak sesuai dengan kajian Islami dunia. Beberapa titik lemah yang masih banyak dihadapi adalah persoalan metodologi dan wawasan yang belum memenuhi kebutuhan. Bahkan banyak yang mengetahui hasil-hasil penelitian-penelitian terkini. Inilah yang sering beliau jumpai ketika menjadi fellow check sehingga mengantarkan pada kesimpulan ini.
Ada 7 kluster yang ditawarkan untuk mengikuti fellowship, dan yang paling banyak diminati di level global adalah Family lalu imigration. Namun sayangnya para peneliti Indonesia jarang mengambil klusters ini. Dulu islamic studies lebih berbasis text, namun sejak abad 20 kajian charity mulai dibahas dari sisi antropologi dan sosiologi. Kemudian pada abad 21, justru yang sangat menjanjikan kemudian adalah ketika charity Islam banyak diminati dan didominasi mahasiswa Asia Tenggara khususnya Malaysia, baru setelahnya Indonesia.  Dan masih banyak sekali yang bisa mengkaji masalah ekoniomi Islam juga. Oleh karena itu, tren abad 21, khususnya di Asia Tenggara seharusnya mampu memproduksi studi philantrophy sebagai basis kajiannya dan setiap perguruan tinggi di Asia mempunyai center of Excellence dalam bidang-bidang tersebut.

Memorable Quote:
“Tren abad 21, perguruan tinggi di Asia Tenggara harus mampu memproduksi studi philantrophy sebagai center of Excellence”

Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA
Berbicara mengenai kajian Islam di PTKI, menurut Prof. Kamarudin Amin masih ada kesan yang mendalam bahwa PTKI di Indonesia harus melahirkan ulama. Padahal PTKI tidak harus melahirkan ulama tapi ilmuan Muslim dalam bidang kajian Islam. Beberapa universitas eropa yang membuka kajian Islam bertujuan bukan memghasilkan ulama tetapi mahasiswa yang ahli dalam kajian Islam (student of Islamic Studies). Kalau melihat perbedaan antara universitas di Eropa dengan di Timur Tengah masing-masing punya target yang ingin dihasilkan dan punya keunggulan masing-masing. Kalau di Eropa lebih fokus pada sarjana yang ahli, namun kalau di Timur Tengah tidak hanya ahli tapi juga menjadi ulama. Dan yang masih menjadi kendala sekaligus kelemahan kita adalah bagaimana mampu mengkombinasikan tradisi-tradisi di indonesia dengan kajian-kajian barat (western studies). Padahal menurutnya dua keahlia ini mesti dikombinasikan selain menjadi sarjana juga menjadi ahli (expert).
Kamaruddin melihat tantangan dan tren ke depan yang harus dikita adalah bagaimana menjadikan PTKI tidak hanya memproduksi ulama yang memahami tradisionalitas agama tapi juga menguasai pengetahuan modern. Dengan keberadaan PTKI yang cukup banyak ini ke depan seharusnya menjadi menjadi kiblat dan center of excellense dalam studi Islam dunia. Namun untuk menuju ke sana masih perlu kerja yang sangat keras.
Dalam kaitannya dengan perkembangan Islam yang sangat luar biasa di belahan dunia lain. Justru menjadi momentum bagi PTKI utamanya untuk bisa berkontribusi dalam membantu memecahkan masalah masalah di dunia. Kalau hal ini bisa terwujud maka secara otomatis Indonesia dengan Islamnya mampu mengambil peran yang fundamental dalam hal ini. Untuk itu, beliau berharap PTKI ke depan harus bersama-sama mengambil bagian untuk mengatasi hal ini dan memiliki center of excellencenya.

Memorable Quote:
“PTKI ke depan tidak hanya memproduksi ulama yang memahami tradisionalitas agama tapi juga harus menguasai pengetahuan modern, sehingga PTKI bisa menjadi kiblat dan center of excellense dalam studi Islam dunia.”

“Dengan perkembangan Islam yang sangat luar biasa di belahan dunia lain, justru menjadi momentum bagi PTKI untuk bisa berkontribusi dalam membantu memecahkan masalah di dunia.”

 

ONSTAGE DISCUSSION 2 – Auditorium 1 IAIN PALU

The Role of Religious Institution in Combating Radicalism

Day 2 – September 18, 2018
Auditorium 1 IAIN Palu
16.30 – 17.30 WITA

Speakers:
Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (STT Jakarta)
Dr. Lukman Tahir (Dekan FUAD IAIN Palu)
Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A. Ph.D (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
Prof. Drs. H. m. Sirozi, M.A. Ph.D. (UIN Raden Fatah, Palembang)

Host:
Prof. Dr. Hamdan Juhanis (UIN Alaudin, Makassar)

Onstage Discussion (OSD) ini merupakan OSD putaran kedua yang berlangsung pada hari kedua (18/9) yang bertempat di Auditorium 1 IAIN Palu. Adapun sebagai host dalam OSD ini adalah Prof. Dr. Hamdan Juhannis (UIN Alauddin, Makassar) dengan para narasumber adalah Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (STT Jakarta), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A. Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Drs. H. M. Sirozi, M.A. Ph.D. (Rektor UIN Raden Fatah, Palembang) dan sebagai pengganti Habib Jufri yang berhalangan hadir adalah Dr. Lukman Tahir (Dekan FUAD IAIN Palu).

Prof. Dr. Hamdan Juhanis
Problematika mutakhir di Indonesia menjadi pengantar diskusi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hamdan. Beberapa masalah yang menarik perhatian publik adalah radikalisme, korupsi, narkoba dan terorisme. Dalam konteks radikalisme dan terorisme, peran institusi agama menjadi sangat sentral dan ditunggu-tunggu kerja konkritnya dalam mencegah radikalisme dan terorisme di Indonesia. Untuk itu, beliau memberikan kesempatan kepada masing-masing pembicara untuk memberikan perspekstifnya sekaligus solusi konkritnya.

Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga
Dr. Martin menyatakan bahwa radikalisme itu muncul ketika terjadi konflik berkepanjangan yang tidak ada solusi yang tepat, sehingga pada akhirnya memunculkan perasaan yang terancam diantara  berbagai pihak. Berbagai konflik lokal yang sering terjadi di beberapa wilayah yang berujung pada konflik yang melibatkan sentimen agama sebenarnya terjadi karena tidak adanya solusi yang ditawarkan secara jelas. Kemudian pada perkembangannya narasi-narasi radikalisme semakin memperdalam jurang pemisah yang mengakibatkan konflik semakin mengalami eskalasi yang tinggi. Dan inilah yang terjadi saat ini ketika ideologi mulai dimainkan untuk diterapkan secara total dan kaku yang berujung pada kebencian. Berbagai ujaran kebencian sekarang telah mendominasi percakapan publik baik antar maupun intra iman. Lalu bagaimana para pemeluk dan pemimpin agama belajar untuk mewujudkan kedamaian. Menurut beliau, kita harus belajar dan menyadari bahwa identitas kita di negara ini tidak tunggal dan tidak satu narasi, melainkan memerlukan beberapa narasi. Kita perlu selalu memberikan narasi agama kepada masing-masing pemeluk kita secara menyeluruh. Dan perlu membiasakan pada umat kita untuk tidak hidup dalam satu komunitas melainkan lintas komunitas iman sehingga menumbuhkan semangat toleransi dan pluralitas.

Prof. Drs. H. M. Sirozi, M.A. Ph.D.
Prof. Sirozi lebih menyoroti pada peran lembaga pendidikan dalam pencegahan radikalisme. Dalam perspektifnya lembaga pendidikan terutama pendidikan Islam bisa memasuki dua ruangan pendidikan umum dan agama, sehingga dengan posisi ini lembaga Islam bisa memainkan peran yang sangat besar dalam mencegah radikalisme. Untuk itu, beliau mengharap lembaga-lembaga pendidikan Islam harus merancang pendekatan pendidikan yang outputnya tidak terkontaminasi dengan Islam radikal. Dalam pandangannya orang-orang yang berpaham radikal itu sebenarnya baru berproses menjadi radikal. Hal itu terlihat dari sikap keagamaan mereka yang berbeda dengan kebanyakan di mana hanya melihat pada satu kebenaran saja dan menafikan kebenaran lainnya, sehingga dalam merancang pendidikan yang mampu mencegah radikalisme tidak bisa hanya dengan satu pendekatan saja atau one model applies to all, tapi harus mencakup semua. Di sinilah lembaga pendidikan harus memainkan peran sentralnya dalam merancang metode dan pendekatan pencegahan radikalisme. Academic culture yang baik menurutnya akan mengurangi pemikiran-pemikiran radikalisme.

Dr. Lukman Tahir
Dr. Lukman menyatakan bahwa kecenderungan radikalisme sekarang sudah mulai menggejala di kalangan terdidik dan lembaga pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya terhadap siswa, mahasiswa dan dosen ditemukan fakta bahwa mereka memiliki kecenderunga radikal. Kecenderungan radikalisme yang terjadi di kampus dan sekolah ini di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa radikalisme sudah mulai menjadi ancaman besar terutama di perguruan tinggi. Menurutnya radikalisme yang terjadi di kampus melalui beberapa cara, yaitu cara mengajar dosen yang memaksakan pengetahuan mereka untuk diterima oleh siswa/mahasiswa, melalui pertemuan kajian-kajian agama, melalui alumni. Untuk itu, guru/dosen yang mengajar di zaman Z seperti sekarang ini harus mau melakukan rekonstruksi desain pembelajaran untuk menghindari terjadinya radikalisme.

Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A. Ph.D
Menurut Prof. Yudian, Indonesia adalah negara sekuler sekaligus religius. Hal itu bisa dilihat pada sila pertama dalam Pancasila. Jadi, tidak dibenarkan adanya upaya untuk mengganti ideologi negara dengan ideologi lain. Bentuk negara yang ada sekarang adalah yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang majemuk. Radikalisme yang berupaya mengajarkan anti pemerintah dan negara adalah ancaman yang harus diwaspadai tak terkecuali dunia pendidikan. Untuk melawan radikalisme agama dan sekuler, maka menurut beliau perlu menjadikan mata pelajaran agama sebagai mata pelajaran nasional sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan agama masing-masing. Di sini materi agama masing-masing harus dibaca kembali denagan peraturan perundang-undangan apakah sudah sesuai dengan Pancasila atau belum. Tujuannya adalah character building. Selanjutnya adalah constitusional democracy juga harus diajarkan di sekolah supaya meneguhkan keyakinan dalam berbangsa dan bernegara di kalangan para siswa. Sementara untuk menangkal radikalisme di lingkungan kampus, perlu memperkuat menciptakan spiritualitas di kampus salah satunya adalah mata kuliah dasar agama perlu dikenalkan sejak awal ( antara semester 1 & 2). Sementara materi Pancasila dan Bela Negara perlu dipahami dengan baik oleh mahasiswa.

Sebagai penutup diskusi, Prof. Dr. Hamdan memberikan beberapa kesimpulan, yaitu:
–  Sudah saatnya lembaga keagamaan maupun pendidikan untuk segera membuat action plan pencegahan radikalisme
–  Gagasan moderasi Islam harus segera menjadi silabi pembelajaran.
–  Lembaga keagamaan harus mampu menjadikan bangsa ini tidak hanya menjadi bangsa yang memiliki agama, namun juga mampu menjadikan bangsa yang melaksanakan perintah agama