PEMBUKAAN AICIS2018 PALU

Pembukaan AICIS ke 18 tahun 2018 di Kota Palu dilakukan pada hari kedua (18/9) di Hotel Mercure Palu mulai pukul 08.00-10.00 WITA. Pembukaan yang dihadiri oleh pejabat eselon 1 Kementerian Agama, Muspida Tingkat 1 dan 2 Sulawesi Tengah, para Rektor dan Direktur pascasarjana PTKIN, pembicara baik dalam maupun luar negeri, partisipan dan tamu undangan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Acara dimulai pukul 08.00 WITA, semenjak Menteri beserta para pejabat memasuki ruang upacara pembukaan. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta upacara yang kemudian dilanjutkan dengan lagu hymne AICIS oleh paduan suara mahasiswa IAIN Palu dan pembacaan ayat suci al-Quran.
Acara dilanjutkan dengan sambutan Dirjen Pendis, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA sebagai laporan penyelenggaraan AICIS 2018 Palu. Dalam sambutannya, Dirjen mengatakan bahwa IAIN Palu sangatlah pro aktif dan sangat bersabar menunggu menjadi penyelenggara AICIS ke 18 ini dimana seharusnya telah menjadi penyelenggara AICIS ke 17 tahun 2017 yang lalu, namun karena AICIS ke 17 dilakukan di Jakarta berbarengan dengan penyelenggaraan Pendis Expo oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa pendidikan Islam di Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa, di mana lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai madrasah sampai PTKIN telah menjadi tujuan destinasi masyarakat menengah perkotaan. Sehingga sejalan dengan hal itu, keberadaan AICIS di lingkungan PTKI menjadi semakin dipehitungkan keberadaannya. AICIS diharapkan selain menjadi panggung aktualisasi bergengsi bagi para akademisi PTKI maupun para akademisi internasional dalam mempresentasikan ide, gagasan dan hasil-hasil riset terbaru mereka, juga ke depan AICIS bisa menjadi seperti konferensi-konferensi yang ada di di luar negeri yang mampu membiayai sendiri di mana para akademisi mengeluarkan sedikit anggaran untuk bisa mengikuti konferensi-konferensi yang diselenggarakan. Begitu juga dengan AICIS ke depannya juga harus mandiri dimana para presenternya membiayai sendiri karena menjadi kebutuhan para akademisi untuk mempresentasikan hasil temuan-temuan terbaru mereka.

Tema AICIS 2018 ”Islam in a Globalizing World: Text, Knowledge and Practice” menurut Kamaruddin Amin ingin menunjukkan kontribusi akademisi PTKI dalam perdamaian dunia dan perkembangna dunia akademik baik dalam skala nasional maupun internasional sekaligus ingin menegaskan bahwa PTKI mampu merespon isu-isu global dan kekinian. Di akhiri dengan ucapan terima kasih kepada panitia baik pusat maupun daerah yang bersama-sama telah menyiapkan penyelenggaran AICIS tahun ini, juga kepada Gubernur Sulawesi Tengah dan Walikota palu yang telah mendukung suksesnya acara ini, serta kepada narasumber baik dalam maupun luar negeri yang telah menyempatkan hadir di AICIS ke 18 ini.
Selanjutnya adalah sambutan Gubernur Sulawesi tengah yang dalam hal ini diwakili oleh Asisten Administrasi Umum dan Organisasi, Mulyono, SE.Ak, MM. Sebelum membacakan sambutan pidato dari Gubernur, beliau menyampikan permohonan maaf dan salam dari bapak Gubernur yang tidak bisa menghadiri AICIS ke-18 tahun 2018 di Kota Palu karena ada kepentingan yang tidak dapat diwakilkan. Gubernur dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada Menteri Agama beserta rombongan, para pimpinan PTKI dan para peserta AICIS ke-18 tahun 2018 di bumi Tadulako Sulawesi Tengah. Penyelenggaraan AICIS ke-18 di Kota palu bagi Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah merupakan suatu kehormatan sekaligus kebanggaan. Hal itu menunjukkan kepercayaan yang cukup tinggi dari Kementerian Agama kepada IAIN Palu untuk menjadi penyelenggara AICIS tahun ini. Penunjukkan ini menurut Gubernur menjadi motivasi bagi IAIN Palu untuk memberikan layanan yang prima dan memberi kesan kenyamanan bagi para peserta AICIS.

Mengingat bahwa AICIS menjadi sumber inspirasi dan menjadi jembatan keilmuan yang menyumbangsihkan kajian-kajian keislaman kepada masyarakat dunia, maka Gubernur berharap bahwa AICIS bisa menjadi referensi ilmiah yang menjembatani Islam dengan ilmu pengetahuan dan peradaban modern serta mampu menyalurkan energi-energi positif bahwa Islam adalah agama yang dapat merangkul dan menyatukan semua kalangan dengan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan universalisme yang tercermin dalam prinsip Islam rahmatan lil alamin. Selain itu Gubernur juga menyampaikan bahwa melalui AICIS diharapkan dapat meluruskan pemahaman yang keliru bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, kebencian, intoleransi dan terorime justru sebaliknya Islam mengajarkan kesejukan. Dan dengan adanya AICIS juga mampu memantapkan kedudukan PTKI dalam menginisiasi dan memberi solusi jalan tengah yang bisa mendudukkan semua kalangan dengan damai, santun dan tetap bersandar pada nilai-nilai ukhuwah Islamiyah. Di akhir sambutannya Gubernur mengucapkan selamat menjalankan AICIS ke-18 tahun 2018 di Kota Palu Sulawesi Tengah kepada seluruh peserta AICIS.

Dan sebagai inti dari pembukaan AICIS ke-18 tahun 2018 adalah sambutan Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifuddin sekaligus membuka secara resmi AICIS ke18 tahun 2018 di Kota Palu. Mengawali sambutannya, Menteri Agama menyampaikan bahwa tema AICIS ke-18 tentang Islam dan globalisasi yang dalam kaitanya kontribusi sarjana-sarjana Islam di kawasan Asia Tenggara baik berupa teks-teks karya sarjana nusantara maupun dalam praktik sosial, ekonomi dan polik baik di masa lalu maupun sekarang menarik untuk dicermati. Beliau beralasan bahwa kawasan Asia Tenggara telah terbukti menjadi kawah candradimuka kajian Islam di dunia. Sejarah telah mencatat Asia Tenggara pada umumnya dan khususnya Indonesia telah menghasilkan ulama-ulama besar dunia dengan berbagai karya yang berupa teks-teks yang ditulis baik dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lokal yang menjadi referensi kajian keislaman dunia. Selain kekayaan khasanah intelektual keislaman tersebut juga praktik-praktik keislaman di wilayah ini yang sangat moderat menghargai keragaman kultur, menjadikan wajah Islam di Indonesia dan Asia Tenggara sebagai Islam yang ramah, moderat dan menjunjungtinggi keberagaman dan keberagamaan. Oleh karena itu beliau sangat senang bahwa dalam AICIS ke-18 memilih tema ini yang menggambarkan lintas disiplin. Mengingat kajian teks, pengetahuan dan praktik keagamaan membutuhkan ragam pendekatan keilmuan, sehingga diharapkan mampu berkontribusi dalam peradaban dan keilmuan global.

Selanjutnya Menteri Agama menyampaikan harapannya atas hajatan AICIS tahun ini. Pertama, beliau sangat menginginkan bahwa hasil-hasil diskusi selama AICIS ini dapat memberikan manfaat bagi penguatan program-program di lingkungan PTKI dalam upaya penguatan struktur kelembagaan. Transformasi status PTKI tidak boleh hanya dimaknai peningkatan anggaran dan jumlah prodi, namun harus disertai dengan “hijrah” PTKI menjadi institusi yang memiliki tradisi riset yang baik, menjadi kampus yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan sains dan teknologi dan menjadi rumah yang nyaman bagi dosen dan peneliti untuk menghasilkan temuan-temuan yang berkualitas sehingga dapat berkontribusi bagi pengetahuan dan keilmuan global. Kedua, para narasumber dan peserta AICIS mendiskusikan dan merespon persoalan-persoalan sosial keagamaan yang belakangan menggangu kerukunan umat beragama seperti intoleransi mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, kasus penodaan agama, generasi medsos yang enggan beragama yang berbasis bacaan primer hingga kasus radikalisme dan terorisme. Ketiga, diharapkan kepada narasumber dan peserta agar bersama-sama memikirkan kontribusi apa yang dapat diberikan untuk perdamaian dunia. Mengingat bahwa muslim nusantara memiliki kekhasan tersendiri dalam merespon konservatisme, radikalisme berbasis keagamaan. Era keterbukaan global telah melahirkan tantangan tersendiri bagi muslim baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara seperti menguatnya politik identitas, kecenderungan keagamaan ke arah konservatif dan beberapa kepentingan politik telah mengakibatkan terciptanya segresi sosial,  maka solusinya adalah Islam Wasathiyah. Islam wasathiyah telah menjadi nilai-nilai yang diwariskan oleh para ulama nusantara yang telah mampu mengantarkan Islam dalam kawasan ini hingga sekarang karena telah mampu mengakar dalam berbagai tradisi, budaya dan agama yang ada. Di akhir sambutannya, Menteri Agama menitipkan pesan kepada para sarjana dan peneliti PTKI supaya memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mempromosikan dan menjadikan Islam Wasathiyah sebagai harapan akan masa depan peradaban dunia.

Selanjutnya untuk menandai secara resmi pembukaan AICIS ke-18 tahun 2018 di Palu, Menteri Agama didampingi Dirjen Pendis, Direktur PTKI, Asisten Administrasi umum dan Organisasi Pemprov Sulawesi Tengah dan Rektor IAIN Palu bersama-sama memukul alat tabuh Gimba, alat musik tradisional khas Sulawesi Tengah.
Sebagai penutup upacara dilakukan doa penutup dan tampilan lagu-lagu nasional dan daerah oleh paduan suara mahasiswa IAIN Palu yang merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa non muslim yang ada di Kota Palu.