Dari Worksession Civic Education; Digital Citizenship, Era Baru menjadi Warga Negara yang Baik




Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penanaman nilai kewargaan yang tepat kepada mahasiswanya, IAIN Sunan Ampel melalui dukungan SILE/LLD melakukan penyusunan ulang bahan ajar civic education. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2013 ini telah memasuki tahapan penilaian kebutuhan dan review terhadap hal yang selama ini telah ada. Adapun hal-hal yang direview adalah buku bahan ajar Pancasila dan Civic Education yang telah dimiliki oleh IAIN Sunan Ampel dan buku Pancasila dan Kewarganegaraan yang diterbitkan oleh Indonesian Center for Civic Education (ICCE) UIN Syarief Hidayatullah Jakarta.

Hadir pada kegiatan ini antara lain Jarot Wahyudi (Advisor Komponen 200 SILE/LLD), Ahmad Ubaidillah dan Bahrissalim (Short Term Consultant/ STC Civic Education dari UIN Syarief Hidayatullah), 6 orang tim ahli penyusunan bahan ajar civic education IAIN Sunan Ampel, 2 orang dari unsur dosen pengampu mata kuliah civic education (Kunawi Basyir dan Amal Taufiq), serta tiga orang mewakili masyarakat yakni PW Fatayat NU Jawa Timur, PW Aisyiah Jawa Timur, dan Lurah Jemursari – Surabaya.

Kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan hasil survey terhadap sejumlah mahasiswa dan dosen tentang mata kuliah civic education; melakukan review terhadap buku terdahulu; serta bertujuan untuk meminta masukan dari sejumlah masyarakat yang diundang.

Menurut Eni Purwati, Ketua tim ahli, kegiatan ini diharapkan dapat menghimpun masukan-masukan dari masyarakat. “Masukan-masukan ini akan menjadi dasar bagi kami dalam merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata kuliah civic education serta melengkapi hasil survey dan review buku yang telah kami lakukan” tandasnya.

Beberapa tema pokok yang digunakan sebagai patokan dalam diskusi ini adalah apa saja kriteria masyarakat yang baik? Apa kriteria mahasiswa IAIN Sunan Ampel yang diharapkan? Bagaimana pandangan masyarakat terhadap mahasiswa dan alumni IAIN Sunan Ampel? Materi apa saja yang diharapkan dapat dikuasai mahasiswa IAIN Sunan Ampel agar menjadi warga negara yang baik? Apa muatan lokal yang harus dimasukkan dalam kurikulum/SAP civic education? Tema-tema lokal apa saja yang perlu dimasukkan? Apakah problem/isu-isu konflik sosial dan alternatif solusinya perlu dimasukkan dalam kajian materi mata kuliah ini? Bagaimana partisipasi mahasiswa IAIN Sunan Ampel di masyarakat?

Hal menarik yang juga sempat muncul dalam diskusi ini, selain pembicaraan tema pokok diatas adalah terkait penamaan mata kuliah ini sendiri. Ada sebagian yang menyatakan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia, dan tidak menggunakan istilah civic education.

Menurut Kunawi Basyir, peserta worksession yang juga dosen pengampu mata kulkiah civic education di fakultas Ushuluddin, mata kuliah ini sebetulnya lebih baik menggunakan istilah pendidikan kewargaan dan bukan pendidikan kewarganegaraan. “Istilah kewargaan lebih tepat karena mata kuliah ini hendak membekali mahasiswa menjadi warga yang baik, yang mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya” tegasnya. [Sulanam]

oleh admin-dev | Edisi Tanggal: 14-05-2013 Jam: 10:12:11 | dilihat: 1299 kali