Litbang Perlu Teliti Efektifitas Program Sertifikasi Guru




Batam (12/7/2013)—Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Nursyam, M.Si. menyatakan pentingnya Badan Litbang Kemenag RI untuk meneliti efektifitas program sertifikasi guru. “Apakah ada korelasi antara tingkat kesejahteraan guru dengan peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya saat membuka Rapat Koordinasi LPTK Sertifikasi Guru 2013 yang diselenggarakan di Batam, 11-13 Juli 2013.

Rapat Koordinasi tersebut merupakan kegiatan Pokja Pusat Sertifikasi Guru Kemenag RI yang dilaksanakan oleh Tata Usaha Direktorat Pendidikan Tinggi Islam. Para peserta yang hadir adalah para pimpinan Fakultas Tarbiyah/ Ilmu Kependidikan PTAIN dan para pimpinan fakultas pendidikan di lingkungan Bimas Kristen, Bimas Katolik, Bimas Hindu, dan Bimas Budha. Sementara sebagai nara sumber hadir Direktur PAIS Dr. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Madrasah Prof. Dr. Nur Khalis Setiawa, dan Tim Pelaksana Sertifikasi dari Kemndikbud RI.

Menurut Nursyam, hasil penelitian UNESCO sangat mengkhawatirkan pada kelanjutan program sertifikasi guru, karena ditemukan bahwa guru yang telah dan belum sertifikasi tidak menunjukkan perbedaan kualitas yang signifikan. Padahal seharusnya mereka yang telah disertifikasi memiliki kompetensi profesionalnya yang optimal. “Saya ingin ada data yang berbanding terbalik dengan hasil penelitian di lingkungan kemendikbud tersebut,” ujarnya.

Segera Dimulai

Dirjen Pendidikan Islam meminta agar realisasi anggaran Pendidikan Islam dipercepat mengingat sudah berada di semester kedua TA 2013. Setelah kendala kebijakan dan kendala teknis akibat pemblokiran terlampaui, seluruh satker diminta serius dan dapat bekerja keras menjalankan program di atas peraturan dan prosedur baku. “Kita mempunyai empat ribuan satker, dengan anggaran sekitar 3,8 triliun, sementara DJA baru meluncurkan anggaran tersebut tanggal 8 Juni yang lalu. Ini problem kita yang luar biasa,” katanya.

Selain anggaran pelaksanaan sertifikasi yang belum bisa dilaksanakan, keterlambatan juga terjadi pada program lainnya, seperti Bidik Misi. Oleh karena itu banyak mahasiswa penerima program Bidik Misi yang harus menghadapi masalah besar dalam masa studinya. “Ada yang jual sepeda motor, jual kue, ada yang drop out dari kampusnya,” jelasnya. (Sumber: TU Dikti Islam/Atri)

oleh admin-dev | Edisi Tanggal: 18-07-2013 Jam: 09:11:32 | dilihat: 1087 kali