Hari ke 5 PWN PTAI di Bengkulu, Peserta Masih Bersemangat




Bengkulu (Diktis), Kesigapan panitia PWN XII PTAI di Bengkulu patut mendapat dua acungan jempol. Pasalnya sampai hari ke 5 (lima) pelaksanaan PWN di Bengkulu ini tidak ada peserta yang mengalami sakit yang berarti. Menurut salah seorang tim monitoring dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Muhammad Asikin, ST mengatakan bahwa dari 1.000 lebih peserta PWN XII PTAI di Bengkulu ini hanya ada kurang lebih 50 peserta yang mengalami sakit, itupun hanya sakit ringan, seperti kecapean, masuk angin dan sedikit kecelakaan kecil ketika menggunakan cangkul. “saya cukup terkejut mendapatkan laporan dari posko kesehatan, hanya ada 50 orang peserta yang mengalami sakit itupun cuma keluhan masuk angin, pegel-pegel dan hanya satu orang yang sedikit luka terkena cangkul, itupun masih bisa diatasi dengan baik” ujar Asikin.

Menurut bapak yang saat ini berdomisili di Tangerang ini, sanitasi dan sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang dipersiapkan secara maksimal oleh panitia, menjadi salah satu factor yang menyebabkan kesehatan peserta dapat terjaga. Terlebih lagi sebelum pelaksanaan PWN ini telah dilakukan pengasapan (fogging) untuk memberantas nyamuk penyebar penyakit demam berdarah. “Walaupun cuaca di Bengkulu saat ini kurang bersahabat, turun hujan yang lumayan cukup lebat, namun dengan sanitasi yang baik itu bukan menjadi masalah yang berarti” ungkap Asikin.

Di hari kelima ini juga ada beberapa peserta yang menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di Bengkulu. Salah satunya adalah rumah kediaman Bung Karno saat pengasingan(1938-1942).

Seperti diketahui Bung Karno, sang tokoh proklamator kemerdekaan Republik Indonesia pernah diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938, dengan harapan Bung Karno tidak dapat menggelorakan semangat juang kemerdekaan. Namun sejarah berkata lain, Bung Karno masih tetap menjaga komunikasi dengan pejuang lainnya dan terus menggelorakan semangat kemerdekaan hingga ia keluar dari Bengkulu pada tahun 1942. Akhirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat dikumandangkan pada Agustus 1945. Di Bengkulu pulalah beliau menemukan cintanya dengan ibu Fatmawati, tokoh bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan, beliau adalah orang yang menjahit sang saka merah putih. Bendera pusaka inilah yang digunakan dalam upacara proklamasi 17 Agustus 1945. (P2Y)

oleh admin-dev | Edisi Tanggal: 18-05-2014 Jam: 22:54:35 | dilihat: 873 kali